Rida semua manusia adalah tujuan yang tak bisa diraih. Sedangkan rida Allah adalah tujuan yang tak boleh ditinggal. Maka tinggalkan perkara yang nggak bisa diraih dan raihlah perkara yang tak boleh ditinggal.
Saya mengamati guru-guru saya yang tak mengharapkan rida makhluk kehidupannya sangat tenteram dan nyaman. Prinsip mereka saat melaksanakan suatu progam, asal baik dan dirida Allah maka kerjakan. Tak peduli dengan orang-orang yang menentang. Hati merupakan tempatnya akal (pikiran) dan hati memiliki cahaya sebagai daya yang karenanya akal bisa berfikir. (Lihat Kitab Jauhar at-Tauhid, Ibrahim al-Baijuri, hal-99).
Jadi, tanpa hati berserta cahayanya seorang manusia tidak dapat berpikir, serta tidak mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan. Oleh sebab itu hati adalah instrumen terpenting dalam diri manusia.
Objeknya tidak hanya kepada hal-hal yang bersifat profan, namun nilai objektifitas dari hati adalah untuk mencapai perkara bersifat spiritual dan sakral. Seperti halnya ketulusan atau keikhlasan dan rasa syukur, bahkan untuk mengenal Allah SWT (Al-Ma’rifah).
Oleh karena itu tanpa mengupayakan hati dapat menjerumuskan manusia ke dalam lembah kesesatan. Hal ini terjadi ketika orang-orang musyrik mendustakan kebenaran Rasulullah SAW sehingga membawa mereka ke dalam azab yang pedih. Sebagaimana telah Allah abadikan di dalam Al-Quran:
خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ وَعَلَىٰ سَمۡعِهِمۡۖ وَعَلَىٰٓ أَبۡصَـٰرِهِمۡ غِشَـٰوَةٌ۬ۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٌ۬ (٧)
“Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka (musyrikin) dan penglihatan mereka di tutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (QS. Al-Baqarah [2] : 7).
Hati juga sarana vital dalam menerima suatu kebenaran. Seseorang tanpa mengupayakan hatinya dalam kebaikan maka akan terjatuh ke dalam kekufuran. Hati sangat berpengaruh terhadap tindakan seseorang. Bila hatinya baik, maka baik pula perilakunya. Dan sebaliknya, jika hatinya keruh maka tindakannya pun buruk.
Sebagaimana sabda Rasulullah :
أَلَا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ
“Ingatlah di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh jasad akan ikut baik. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan ikut rusak. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati (jantung).” (HR. Bukhari, no. 2051 dan Muslim, no. 1599)
Seorang ulama mengatakan, “Hati adalah raja. Ketika yang merawatnya bagus maka rakyatnyapun bagus.” (Lihat Kitab Syarah Arba’in Nawawi, Yahya bin Syarafuddin, hal-29, hadis keenam). Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Sa’id Al-Khudri R.A, Rasulullah ﷺ bersabda :
“Sepasang mata adalah petunjuk. Sepasang telinga adalah corong. Lisan adalah juru bicara. Kedua tangan adalah sayap. Perut adalah kasih sayang. Limpa adalah senyuman. Paru-paru adalah jiwa. Kedua pinggang adalah tipu daya. Dan hati adalah raja. Ketika rajanya bagus, maka rakyatnya pun bagus. Dan jika rajanya rusak maka rakyatnya pun rusak.” (HR Ibnu Hibban, Abu syaikh dan Abu Nu’aim).
Seorang ulama mengatakan, penglihatan, pendengaran dan indera pencium laksana daya kekuatan yang dilihat dan dipertimbangkan oleh jiwa. sedangkan hati adalah rajanya. Jika yang merawatnya baik maka baik pula rakyatnya.“ (Lihat Kitab Syarah Arba’in Nawawi, Yahya bin Syarafuddin, hal 29). (*)
Oleh: M Imam Nurul Zuhda
(Khadim PP Sunan Kalijogo Kesamben) Editor : Achmad RW