Radarjombang.id - Cabang olahraga (cabor) kembali mengeluhkan persiapan pemberangkatan pekan olahraga provinsi (Porprov) Jatim di Malang Raya 28 Juni sampai 5 Juli.
Pasalnya, tiap cabor hanya dibiayai maksimal enam hari.
Padahal, beberapa cabor lebih dari itu bahkan ada yang 11 hari.
’’Jika tidak ada dana tambahan, bulutangkis berencana mundur dari Porprov 2025,’’ kata Sekretaris Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Jombang, Dharu Suwandono, Selasa (17/6).
PBSI kelimpungan cari dana tambahan setelah KONI Jombang memutuskan hanya mencover pembiayaan porprov satu cabor selama enam hari.
Sementara bulutangkis bertanding selama 11 hari.
Bulutangkis hanya diberi kuota tujuh atlet dan satu official. Sedangkan yang daftar Porprov 16 atlet dan empat official. Sisanya menggunakan biaya mandiri.
Sementara itu, Gaguk Mariono pengurus induk cabor selam (POSSI) Jombang juga mengeluhkan hal yang sama. Sebab cabor selam bertanding selama delapan hari. ’’Alasan KONI keterbatasan keuangan,’’ jelasnya.
Jika tidak ada solusi, dua hari di luar pembiayaan KONI, Gaguk terpaksa harus memangkas uang saku atlet untuk jadi uang makan. ’’Kalau masih kurang ya terpaksa nombok dikit-dikit,’’ jelasnya.
Sementara untuk mencari sponsor, ia belum berani melakukannya. ’’Sebab ini event besar, dan pandangan sponsor pasti sudah ada biayanya. Kalau tetap minta bantuan kesannya kita bohong,’’ ungkapnya.
Ketua KONI Jombang, Sumarsono, membenarkan jika anggaran untuk setiap cabor dalam Porprov maksimal enam hari. Saat ini, pihaknya masih menghitung ulang, sisa dana dari cabor yang bertanding kurang dari enam hari.
’’Tidak semua cabor lebih dari enam hari, ada juga yang kurang dari enam hari. Nah, yang kurang dari enam hari ini masih kita hitung,’’ urainya. Cabor yang bertanding paling lama,bulutangkis, 11 hari.
Baca Juga: Atlet Porprov Sepatu Roda Asal Jombang Mengeluh, Gegara Mendadak Dicoret Jelang Ajang Porprov 2025
Sisa anggaran yang ada, bakal ditambahkan ke cabor yang bertanding lebih dari enam hari tersebut. Meski begitu pihaknya meminta agar cabor mencari sponsor atau bapak asuh untuk menutup kekurangan.
’’Memang harusnya begitu (cari bapak asuh), sebab anggaran sangat terbatas. Tapi ini masih dihitung lagi, mudah-mudahan ada solusi,’’ ucapnya. (wen/jif)
Editor : Anggi Fridianto