’’Saya yang mengantar langsung adik bertanding, mendampinginya sampai dia pergi selamanya,’’ ungkap Alam Abdurrahman Aldani, sang kakak.
Luqman mengikuti kejuaraan di Surabaya 9-10 Juni. Ia kalah saat bertanding di final, sekaligus pertandingan terakhirnya melawan atlet taekwondo dari Surabaya di kelas 87 kilogram.
Alam menyebutkan, sang adik bertanding dalam kondisi sehat. Luqman juga tak memiliki riwayat penyakit apapun. Sesaat setelah pertandingan dinyatakan selesai oleh wasit, Luqman melakukan streching, melepas seluruh atribut pengaman, dan berjalan sendiri ke tim medis untuk meminta bantuan oksigen. ’’Dia sendiri yang minta, sempat bilang ke saya, Mas mungkin latihanku kurang,’’ katanya.
Setelah mendapatkan bantuan oksigen, Luqman dilarikan ke IGD RS Brawijaya. Di sana, ia mendapatkan penanganan menggunakan alat pacu jantung, beberapa kali disuntik dan diberikan dua infus.
’’Setelah 20 menitan, Luqman dinyatakan meninggal oleh dokter. Sebetulnya Luqman meninggal saat masih di lokasi pertandingan, tapi karena dokter dan tim medis ingin mengupayakan, dibawalah ke RS Brawijaya,’’ jelasnya.
Selama penanganan, dokter tidak menemukan bekas cedera. Baik itu pembengkakan, atau keretakan, juga tidak ada pendarahan dalam. ’’Dokter mengatakan jantung Luqman yang kurang kuat, dan dari sisi pertandingan memang olahraga taekwondo kan begitu,’’ paparnya.
Sumarsono, ketua Taekwondo Indonesia (TI) Jombang mengatakan, Luqman berangkat pada kejuaraan tersebut mewakili dojonya. Ia telah berada di Surabaya dengan satu atlet lain. ’’Ada delapan atlet yang masih di Jombang, dan mau berangkat ke Surabaya. Seluruhnya saya minta untuk membatalkan keberangkatan karena Luqman meninggal,’’ ucapnya.
Ia tak berani membeberkan rinci penyebab meninggalnya Luqman. Namun ia memastikan, Luqman meninggal setelah pertandingan dinyatakan selesai. ’’Itu sudah selesai babak kedua, jadi bukan meninggal pas ditengah pertandingan,’’ bebernya. (wen/jif/riz) Editor : Achmad RW