’’Benar atau salah, guru tetap harus dihormati,’’ kata Kwat Prayitno, ketua harian Federasi Karate-Do Indonesia (Forki) Jombang, kemarin.
Saking pentingnya menghormati senior atau guru, sampai ada penggambaran. Pasal 1, guru atau senior selalu benar. Pasal 2, jika guru atau senior salah, kembali ke pasal pertama. ’’Jadi tak ada alasan tidak menghormati guru,’’ tegas pria yang telah 52 tahun menggeluti karate ini.
Anggota dewan guru Inkanas nasional ini menjelaskan, ada tiga sebutan guru di karate. Pertama, senpai yang berarti kakak. ’’Ini untuk kakak senior yang biasanya melatih,’’ tutur pemegang sabuk hitam karate Dan VII ini. Panggilan senpai biasa ditujukan bagi karateka penyandang sabuk hitam Dan 4 kebawah.
Kedua, sensei atau guru. Ini untuk karateka penyandang Dan 4 keatas. Ketiga, shihan atau guru besar. Ini untuk Dan 6 keatas. Menghormati guru ditanamkan dalam dojokun atau sumpah karate. Ada lima isi sumpah karate yang selalu diucapkan sebelum dan setelah latihan. Pertama, sanggup memelihara kepribadian. ’’Termasuk kepribadian karate adalah menghormati guru,’’ ucap tokoh kelahiran Jombang 28 Agustus 1960 ini.
Kedua, sanggup patuh pada kejujuran. Ketiga, sanggup mempertinggi prestasi. Keempat, sanggup menjaga sopan santun. Kelima, sanggup menguasai diri. Pentingnya menghormati guru juga ada dalam nijukun atau 20 ajaran hidup karate.
Terutama dalam poin pertama; Karate dimulai dan diakhiri dengan hormat. ’’Sebelum dan sesudah latihan, kita menghormat kepada senior atau guru, teman sesama latihan, lambang negara dan tempat latihan. Jadi kepada siapapun kita harus hormat,’’ tegas alumnus S2 Universitas Brawijaya Malang yang kini dosen STKIP PGRI Jombang.
Agar sukses dalam semua hal, kita harus punya guru, mentor atau pembimbing. Mereka adalah orang-orang yang lebih dulu mendalami dibanding kita. Serta mau membimbing kita. ’’Mereka semua harus kita hormati, semua prestasi bisa kita raih atas jasa guru,’’ ungkap pengurus PMI Jombang yang telah donor 125 kali ini. (jif/riz)
Editor : Achmad RW