’’Sangat sayang jika PSID absen, karena kompetisi Liga 3 itu barometer suksesnya pembinaan klub di bawah naungan Askab PSSI,’’ kata Agus Raikhani, mantan sekretaris Askab PSSI 2000-2010, kemarin.
Mantan pemain PSID tahun 90-an ini mengatakan, sudah waktunya PSID mandiri dan profesional. Menurutnya, ada tiga penyebab sebuah klub besar absen kompetisi. Karena persiapan yang tidak maksimal, tidak memiliki pemain yang cukup dan keterbatasan dana.
Ia mengatakan, klub sebesar PSID yang sudah berdiri bahkan jauh lebih tua dibandingkan usia Askab PSSI Jombang, sudah waktunya untuk mandiri. Tidak menggantungkan nasib ke pemerintah. ’’Apalagi aturan pemakaian anggaran saat ini tidak semudah dulu,’’ ungkapnya.
PSID harus mencari figur yang kuat dari sisi materi dan sosial. Menurutnya, banyak manager yang takut memegang PSID karena khawatir tekor, mengingat banyaknya biaya yang dipakai untuk satu kali kompetisi. ’’Tapi kalau manajer punya power secara sosial, maka dia bisa menggandeng banyak sponsor untuk merapat,’’ jelasnya.
Pengelolaan PSID juga harus lebih jelas. Dibentuk semacam perusahaan, memutar dana masuk untuk kegiatan. Sumber dana selain dari sponsor juga bisa dicari dari tiket, pemegang saham dan lainnya. ’’Tata kelola tim juga harus profesional sehingga tidak menggantungkan ke pemkab,’’ tambahnya.
Saat dirinya masih menjadi pengurus Askab PSSI Jombang, ia mengaku mendapatkan dana yang cukup besar dari KONI, Rp 500 juta setiap tahun. Tapi diimbangi prestasi PSID yang juga cukup moncer saat itu. ’’Prestasi PSID saat itu tidak hanya Jawa Timur, kita sudah sampai ke luar provinsi,’’ tambahnya.
Sementara saat ia masih menjadi pemain tahun 90-an, PSID menjadi klub kebanggaan pemain sepak bola Jombang. Bertanding mengenakan kostum PSID menjadi kebanggaan yang sangat besar bagi pemain. ’’Saat itu hanya dibayar Rp 100 ribu tiap tanding. Tidak ada kontrak, beda dengan sekarang yang ada kontrak, pakai sistem gaji. Jadi otomatis biaya yang harus dikeluarkan dalam satu musim juga tidak sedikit,’’ paparnya.
Sepak bola tidak bisa ditangani sendirian. Harus duduk bersama antara pemerintah, askab PSSI, industri, masyarakat dan pecinta bola. ’’Ditambah dengan bukti prestasi yang bagus, tidak tawuran,’’ tandasnya. (wen/jif/riz)
Editor : Achmad RW