”Saya sangat menyayangkan adanya kejadian kemarin,” ujar M Syarif Hidayatullah Wakil Ketua Komisi D DPRD Jombang, kemarin. Adanya insiden tersebut, bentuk tidak siapnya panitia dalam menyelenggarakan event tersebut. ”Seharusnya suporter juga dibatasi. Bukan malah penuh tetap dibiarkan masuk begitu saja,” terangnya.
Ia menyinggung terkait penjualan tiket masuk bagi penonton. ”Apa karena tiketnya dijual. Sehingga, dibiarkan sampai membeludak seperti itu,” tuturnya.
Terlebih lagi, kondisi di dalam ruangan tentu saja sangat berbahaya. ”Kalau saat itu ada yang membawa senjata tajam pasti sangat berbahaya itu,” terangnya. Hal ini tentu harus menjadi pembelajaran untuk panitia agar bisa lebih siap lagi untuk mengadakan event selanjutnya. ”Ya ke depan janganlah sampai terulang kembali. Ini harus menjadi evaluasi,” tegasnya.
Sementara dikonfirmasi terpisah, Agus Budi Hartono selaku pelaksana lomba voli mengakui, dua hari pertandingan memang tiket untuk penonton dijual. Satu tiket dijual dengan harga Rp 5 ribu. ”Hanya dua hari saja yang kami tiketkan. Yang tiga hari digratiskan. Itu pun ada yang tidak membeli tetap diperbolehkan masuk,” tuturnya.
Diakui Agus, dikarenakan suporter juga pelajar sehingga tidak terkontrol. Bahkan, ia sendiri juga tidak mengetahui jumlah penonton yang masuk ke dalam GOR. ”Ini kami kan juga tidak tahu berapa per hari masuknya. Karena namanya pelajar ya langsung masuk begitu saja,” pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, pertandingan semifinal bola voli antar pelajar tingkat SMA/SMK/MA Bupati Cup, berakhir ricuh (31/8). Diduga dipicu saling ejek dan teriakan yel-yel bernada provokasi saat pertandingan tim SMKN 3 Jombang melawan SMK Dwija Bhakti (DB) Jombang.(yan/naz/riz) Editor : Achmad RW