Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kolom gus Zu'em: Terlanjur Nyaman

Achmad RW • Senin, 29 April 2024 | 13:50 WIB
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As

AYU Azhari..? tanya saya dalam hati, ketika melihat seorang ibu muda bersama anak laki-laki masuk ke ruang kerja saya.

Wajah kearab-araban dengan kerudung pasmina tersampir sekedarnya di atas kepala, membawa ingatan saya ke sosok actris tahun 90-an itu.

“Pak Ustadz lupa dengan anak saya ini..? Tahun lalu dia bersama abinya sudah menemui bapak untuk minta info pendaftaran sekolah di Darul’Ulum. Alhamdulillah dia sudah mendaftar, tinggal menunggu pelaksanaan tesnya saja.”

Jelasnya setelah memperkenalkan diri dan mukadimah obrolan secukupnya.

“Maaf bu, saya tadi sebenarnya sudah ingat. Tapi saya ragu dengan ingatan saya..” jawab saya menetralisir.

Serius, saya ingat anak itu. Tapi begitu lihat ibunya yang beda kulitannya dengan si anak yang berwarna coklat, membuat saya ragu.

“Hehehe... santai saja pak, apa yang di pikiran bapak, sama dengan di pikiran orang lain. Di Gorontalo itu tidak jarang terjadi pernikahan beda suku. Anak sulung saya ini warna kulitnya ikut abinya yang dari Ambon. Anak kedua saya yang mirip saya...” terang -sebut saja- Ibu Yasmin dengan ramah tanpa beban.

Dia ke Darul’Ulum bermaksud mencari asrama untuk anaknya.

Sudah minta arahan ke bagian informasi pendaftaran, tapi dia tidak puas karena jawaban mereka normatif : semua asrama bagus, tergantung selera anaknya saja.

Perlu diketahui bahwa di Darul’Ulum saat ini terdapat 44 asrama milik dzuriyah (keluarga).

Kami melarang petugas di kantor pusat pondok untuk mengarahkan calon santri ke asrama tertentu.

Mereka kami silakan untuk melihat-lihat dan berkomunikasi langsung dengan pengasuh asrama yang dikunjunginya.

Dengan demikian para calon walisantri bisa menentukan sendiri, asrama mana yang pas dengan anaknya.

Karena tiap asrama memiliki kekhasan masing-masing dalam akomodasi dan program tambahannya.

Maka, ketika si ibu itu meminta saran saya terkait asrama anaknya, saya pun menjawab bahwa selama asrama itu dzuriyah Darul’Ulum.

Kami turut bertanggungjawab untuk memastikan putra ibu mendapatkan bimbingan dan pembinaan sesuai metode dan kurikulum pendidikan Darul’Ulum untuk seluruh santri.

“Jadi, silakan ibu silaturrahim langsung saja dengan para pengasuh dan pengurus asrama yang ibu kunjungi.. ” jawab saya dengan hati-hati.

Dua jam kemudian, setelah saya mengikuti rapat ujian pondok, bu Yasmin datang kembali dengan wajah yang lebih ceria.

Dia berterima kasih dan senang sekali karena tanpa disengaja di asrama yang dikunjunginya bertemu walisantri se daerah yang anaknya bersekolah di unit pendidikan yang sama.

“Alhamdulillah, saya tadi jumpa dengan ibu yang sedaerah dengan saya, pak. Kami tadi sempat janjian kalau mau tengok anak agar saling berkabar, supaya kami bisa saling titip sesuatu ke anak kami. Sehingga kami bisa bergantian ke Darul’Ulum, hehe..” lapornya dengan gembira.

“Memang melelahkan ya perjalanan dari Gorontalo ke Jombang itu. Maka tepat sekali kalau ibu dengan suami bergantian seperti ini..” kata saya dengan santai.

Namun ucapan saya itu ternyata direspons dengan wajah yang berubah menjadi dingin.

Saya pun langsung mohon maaf atas kesalahan ucapan saya.

“Pak Ustadz tidak salah, abinya yang salah..” cetusnya sambil bercerita panjang tentang perceraian dan statusnya sekarang.

Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Ojo Kagetan..

Singkat cerita, ketika dia baru menjanda, begitu banyak pria yang mencoba menyuntingnya.

Tapi semuanya dia tolak halus dengan kalimat “belum berfikir untuk menikah lagi”.

Padahal yang mendekatinya para pejabat dan pengusaha bahkan pengacara.

Tapi begitu yang melamar direktur perusahaan tempatnya bekerja sebagai humas, dia langsung bersedia dengan syarat: asal seizin istri direktur.

Tanpa diduga istri bosnya menelepon dan menyatakan ikhlas Yasmin menjadi madunya karena dia merasa tidak mampu memenuhi kewajibannya sebagai istri.

Maka dirancanglah pernikahannya di KUA sebagai istri kedua.

Namun sebelum ijab-kabul berlangsung, saudara istri direktur meneror terus.

Begitu juga pegawai perusahaan dan circle istri pertama yang lantang menyebutnya sebagai pelakor ( perebut laki orang ).

“Mengapa ibu menerima pak direktur yang sudah beristri, padahal banyak pengusaha yang berminat. Apakah dari mereka tidak ada yang duda atau bujangan..?” tanya saya menyelidik.

“Ada sih yang duda bahkan lebih muda dan perusahaannya lebih besar. Tapi saya kan belum tahu perilaku dan karakternya selama ini,"

"Janjinya sih mau ajak bulan madu keliling dunia. Tapi kan baru janji. Masak saya harus mempertaruhkan masa tua saya dengan ketidakjelasan."

"Beda dengan direktur saya yang sudah saya tahu dan rasakan langsung kinerjanya. Kata anak sekarang saya sudah terlanjur nyaman dengan beliau, pak."

Baca Juga: Kolom Gus Zuem: Mendalili Ijtihad Politik

"Maka apa pun kata orang, setelah istrinya mengizinkan berarti tidak ada aturan hukum positif yang saya langgar. "

"Sehingga, kalau sekarang masih banyak yang mengatakan saya janda penggoda atau perempuan tak berakhlak, saya pikir mereka itu orang cemburu atau iri saja dengan posisi saya."

"Kalaupun ada akademisi pegiat kesetaraan gender yang mengkritisi pernikahan saya, saya akan bilang: jangan hakimi pilihan hidup orang lain dengan perspektif Anda, memangnya Anda mau memonopoli kebenaran..” tuturnya meyakinkan yang membuat saya tak mampu berkata-kata.

Pas sekali dia sebagai humas.

Betul juga kata orang : kalau hati sudah terlanjur nyaman, maka sulit sekali pindah ke lain hati. (*)

Editor : Achmad RW
#Kolom Gus Zuem #darul ulum #nyaman