JOMBANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Jombang masih menelusuri penyebab dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami ratusan siswa SMPN 1 Kabuh.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah sistem produksi makanan di SPPG Mangunan yang dilakukan secara batch.
Kepala Dinkes Jombang dr. Hexawan Tjahja Widada menjelaskan, makanan MBG tidak seluruhnya dimasak dalam satu proses produksi.
Ada pembagian batch dalam proses memasak dan pendistribusian makanan.
Kondisi itu menjadi salah satu kemungkinan yang ditelusuri karena hingga kini keluhan serupa belum ditemukan pada sekolah penerima MBG lainnya.
Baca Juga: Total Korban Dugaan Keracunan MBG di Kabuh Jadi 259 Orang, Tiga Masih Dirawat
“Untuk saat ini yang terindikasi ke SMP Negeri 1 Kabuh,” ujar Hexawan.
Menurutnya, apabila keluhan hanya muncul pada satu sekolah, ada kemungkinan persoalan berkaitan dengan bahan atau proses pada batch makanan yang dikirim ke sekolah tersebut.
Namun, dia menegaskan dugaan itu belum bisa dipastikan.
“Memasaknya kan batch-batch, mungkin ada salah satu bahannya yang tidak sesuai. Tapi itu masih dugaan,” jelasnya.
Dinkes juga melakukan pemantauan terhadap sekolah lain yang menerima makanan dari SPPG Mangunan.
Sejauh ini belum ditemukan laporan dengan indikasi keluhan kesehatan yang sama.
“Sekolah lain belum ada yang terindikasi,” katanya.
Temuan tersebut menjadi bagian dari penelusuran untuk mengetahui apakah masalah terjadi pada bahan tertentu atau hanya pada makanan yang diproduksi dalam batch tertentu.
Dinkes masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebabnya.
Sebelumnya, Dinkes telah mengambil sejumlah sampel makanan dari SPPG Mangunan untuk diperiksa di BBLK Surabaya.
Sampel yang diperiksa meliputi nasi, udang bumbu saus padang, sayuran, dan pepaya. Sampel air juga diambil untuk memastikan tidak ada faktor lain yang memicu keluhan.
Kasus ini bermula setelah siswa SMPN 1 Kabuh mengonsumsi menu MBG pada Rabu (2/9) sekitar pukul 11.30 WIB.
Keluhan mulai dirasakan sejumlah siswa pada sore hari setelah mereka pulang ke rumah.
Data terbaru Dinkes Jombang mencatat total warga sekolah yang mengalami keluhan mencapai 259 orang.
Sebanyak 10 orang sempat menjalani perawatan.
Tujuh pasien sudah diperbolehkan pulang setelah mendapat tambahan cairan, sedangkan tiga pasien masih dirawat karena mengalami diare dan mual.
Hexawan menegaskan, penyebab pasti belum dapat disimpulkan hanya dari pola munculnya keluhan di satu sekolah.
Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dan air masih diperlukan untuk memastikan sumber masalah.
“Masih kita cek bahan-bahan makanannya,” pungkasnya. (Riz/ang)
Editor : Anggi Fridianto