JOMBANG — Jumlah warga sekolah yang mengalami dugaan keracunan setelah menyantap makanan bergizi gratis (MBG) di SMPN 1 Kabuh, Jombang, bertambah menjadi 259 orang.
Penambahan tiga orang terjadi pada Kamis (3/9) sore.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jombang dr. Hexawan Tjahja Widjaja mengatakan, sebelumnya terdapat 256 orang yang terdata mengalami keluhan kesehatan.
Kemudian, tiga pasien kembali masuk dan menjalani rawat inap pada Kamis sore.
“Yang kemarin ada tambahan lagi yang opname kemarin sore, masuk lagi tiga. Sehingga yang opname jadi 10,” ujar Hexawan, Jumat (4/9).
Baca Juga: 5 Fakta Penting Kasus Dugaan Keracunan MBG di Kabuh Jombang
Dari 10 pasien yang sempat menjalani rawat inap, tujuh di antaranya sudah diperbolehkan pulang pada Jumat pagi setelah kondisi membaik.
Mereka sebelumnya mendapat observasi dan tambahan cairan atau rehidrasi karena mengalami lemas.
“Tadi pagi sudah dilakukan visitasi sama dokternya, tujuh boleh pulang,” katanya.
Dengan demikian, kini tersisa tiga pasien yang masih menjalani perawatan.
Ketiganya masih mengalami diare cukup sering dan mual.
“Masih diare sekali dan kemudian masih mual-mual saja,” jelas Hexawan.
Menurut Hexawan, penambahan jumlah korban terjadi karena data kasus terus bergerak.
Sebagian warga sekolah yang mengalami keluhan memilih berobat secara mandiri sehingga tidak langsung tercatat dalam data fasilitas kesehatan.
Sebelumnya, dari 256 orang yang terdata, sebanyak 175 orang merupakan warga sekolah yang berobat secara mandiri berdasarkan pendataan pihak sekolah.
Selain itu, terdapat warga yang mendapat penanganan rawat jalan di Puskesmas maupun klinik.
“Data itu bergerak terus.
Kemarin waktu kita ngomong 256, ternyata sore ada laporan lagi yang masuk di Ploso untuk rawat jalan, kemudian yang opname di Kabuh tambah tiga,” ujar Hexawan.
Dinkes masih melakukan pemeriksaan untuk memastikan penyebab keluhan kesehatan tersebut.
Sampel makanan dari SPPG telah diambil untuk pemeriksaan laboratorium, meliputi nasi, sayuran, udang berbumbu saus padang, dan pepaya. Sampel air juga ikut diperiksa.
Dinkes juga menelusuri kemungkinan adanya perbedaan batch atau waktu memasak makanan.
Sejauh ini, keluhan yang terindikasi ditemukan terkonsentrasi pada SMPN 1 Kabuh.
“Untuk saat ini yang terindikasi ke SMP Negeri 1 Kabuh,” kata Hexawan.
Penyebab pasti belum dapat dipastikan dan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Sementara terkait kemungkinan penghentian sementara atau suspend SPPG, Hexawan mengatakan kewenangan tersebut berada pada Badan Gizi Nasional (BGN).
“Suspend itu hak sepenuhnya pihak BGN, bukan Dinas Kesehatan,” tegasnya.
Hingga Jumat (4/9) pagi, dari total 259 warga sekolah yang mengalami keluhan, tiga masih menjalani perawatan di Puskesmas. Tujuh pasien lainnya telah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik. (riz/ang)
Editor : Anggi Fridianto