JAKARTA, RadarJombang.id – BRI terus menggenjot penyaluran kredit ke sektor produktif, khususnya UMKM, dengan tetap menjaga kualitas aset.
Di tengah dinamika ekonomi, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menerapkan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko secara ketat agar ekspansi kredit tetap sehat dan berkelanjutan.
Bagi BRI, pertumbuhan kredit tidak sekadar mengejar besarnya penyaluran. Kualitas debitur dan kemampuan menjaga risiko menjadi pertimbangan utama sebelum pembiayaan diberikan.
Baca Juga: Digelar Serentak di 131 Lokasi, BRI KKB National Expo 2026 Cetak Rekor MURI
Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti mengatakan, prinsip kehati-hatian menjadi fondasi dalam setiap keputusan kredit.
Penguatan kualitas aset dilakukan sejak proses awal melalui underwriting yang disiplin, pemantauan berkala, hingga penerapan early warning system.
“BRI tetap memiliki appetite untuk tumbuh dan menyalurkan kredit kepada sektor produktif. Namun, pertumbuhan tersebut harus dilakukan secara terukur dengan tetap mengutamakan kualitas,” ujar Ety.
Baca Juga: Terjang Ombak, Mantri BRI Susuri 34 Desa di 7 Pulau Maluku Utara
Menurutnya, setiap ekspansi kredit terlebih dahulu melalui asesmen risiko dengan mempertimbangkan profil debitur, prospek usaha, kemampuan membayar, hingga kondisi sektor dan industri yang dibiayai.
Strategi tersebut juga diterapkan secara selektif sesuai karakteristik risiko masing-masing segmen.
BRI terus menyempurnakan kebijakan perkreditan dan mekanisme pemantauan portofolio agar mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi ekonomi.
Pemantauan pun tidak berhenti setelah kredit dicairkan. BRI melakukan monitoring secara berkala dengan pendekatan berbasis data untuk mendeteksi perubahan kualitas debitur maupun potensi tekanan pada sektor tertentu.
“Prinsip kami bukan sekadar bagaimana kredit dapat tumbuh, tetapi bagaimana kredit tersebut dapat tumbuh dengan kualitas yang terjaga. Karena itu, kami terus memperkuat proses dari hulu hingga hilir, mulai dari underwriting, monitoring baik on-site maupun off-site, early warning system, hingga penanganan kredit yang membutuhkan perhatian khusus,” lanjut Ety.
Langkah tersebut menjadi penting mengingat portofolio BRI didominasi segmen UMKM dengan karakteristik nasabah yang beragam dan tersebar di seluruh Indonesia.
Pengalaman panjang di sektor tersebut menjadi modal BRI untuk memahami profil dan risiko debitur secara lebih rinci.
Hasilnya mulai terlihat dari sejumlah indikator kualitas aset. Rasio Non Performing Loan (NPL) BRI membaik dari 3,07 persen pada Desember 2025 menjadi 3,01 persen pada Maret 2026.
Indikator risiko kredit yang lebih forward-looking, yakni Loan at Risk (LaR), juga mengalami penurunan.
Rasio LaR turun dari 11,13 persen pada Maret 2025 menjadi 9,67 persen pada Maret 2026, atau membaik 145 basis poin.
Baca Juga: Cerita Mantri BRI Dampingi Pelaku Usaha Cianjur Selatan, Terjang Jalan Terjal dan Kabut
Di sisi lain, BRI tetap menjaga kecukupan pencadangan dan permodalan sebagai bantalan menghadapi potensi tekanan.
Hingga Maret 2026, rasio NPL Coverage tercatat 179,45 persen, sedangkan LaR Coverage mencapai 55,75 persen.
Ety menegaskan, konsistensi menjaga pencadangan menjadi bagian penting dari strategi manajemen risiko BRI.
Dengan kualitas aset yang terus diperkuat, BRI ingin memastikan pertumbuhan kredit tidak hanya cepat, tetapi juga mampu bertahan dalam jangka panjang.
“Pertumbuhan bisnis harus berjalan beriringan dengan pengelolaan risiko yang disiplin. Dengan fundamental yang kuat dan kualitas aset yang terus dijaga, BRI dapat terus mendukung kebutuhan pembiayaan sektor produktif sekaligus menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan,” pungkas Ety. (*/riz)
Editor : Achmad RW