Ini Kunci Sukses Bagus Setianto, Jadi Penerbang TNI AU hingga Komandan Paskibraka di Istana Merdeka

Wenny Rosalina • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 19:27 WIB
Kapten Bagus Setianto bersama keluarga
Kapten Bagus Setianto bersama keluarga

 

Radarjombang.id - Kesuksesan Bagus Setianto hingga menjadi perwira TNI Angkatan Udara (TNI AU) tidak diraih dalam waktu singkat.

Di balik seragam dan tugasnya sebagai penerbang pesawat Boeing 737-200 di Skadron Udara 5 Makassar, terdapat perjalanan panjang yang ditempa sejak masih duduk di bangku sekolah.

Ayahnya seorang petani dan ibunya sebagai ibu rumah tangga.

 Kehidupan sederhana tersebut justru menjadi salah satu sumber motivasi terbesar Bagus untuk mengejar cita-cita.

Sejak masih sekolah, ia terbiasa membantu orang tuanya bekerja di sawah.

Menurut Bagus, nasihat dan doa kedua orang tuanya menjadi bekal yang sangat berarti dalam perjalanan hidupnya.

Terlebih, ia merasakan langsung perjuangan orang tua dalam mendukung pendidikannya.

“Ibu yang sangat menginspirasi saya. Kedua orang tua saya, nasihat dan doa dari orang tua itu sangat-sangat membantu saya.

Dulu waktu masih sekolah, saya selalu membantu orang tua ke sawah. Dari situlah mungkin doa orang tua itu sangat manjur,” ungkapnya.

Baca Juga: Inilah Sosok Kapten Bagus Setianto, Putra Jombang Jadi Komandan Kompi Paskibraka di Istana Merdeka

Kekuatan doa selalu menjadi sumber kesuksesan bagi Bagus.

Termasuk dalam seleksi pemilihan Danki Paskibraka, kekuatan doa istri juga membawanya sukses hingga mendapatkan amanah dan menjalankannya dengan lancar.

Bagus pun berpesan agar anak-anak muda tidak melupakan jasa orang tua dalam mengejar cita-cita.

Menurutnya, berbakti kepada orang tua menjadi salah satu kunci penting dalam menjalani kehidupan.

“Kita berbakti kepada orang tua karena doa orang tua itu sangat membantu sekali,” tuturnya.

Keinginan Bagus menjadi seorang abdi negara sebenarnya telah tumbuh sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

Baca Juga: Bikin Bangga! Siswa Darul Ulum Jombang Wakili Indonesia di Ajang Internasional di China, Ini Sosoknya

Saat itu, ia sudah memiliki keinginan untuk menjadi seorang TNI.

“Saya dulu sebenarnya sejak SD ingin menjadi abdi negara,” katanya.

Keinginan tersebut semakin kuat ketika Bagus duduk di bangku SMP.

 Saat itu, kakaknya telah lebih dahulu menjadi prajurit TNI AU.

Sang kakak yang kini berpangkat Sersan Dua (Serda) menjadi salah satu sosok yang menginspirasinya.

Dari sanalah cita-cita Bagus semakin mengerucut.

Ia tidak hanya ingin menjadi prajurit TNI, tetapi secara khusus ingin bergabung dengan TNI AU dan menjadi seorang penerbang.

“Saat saya SMP, kakak saya sudah menjadi seorang Tentara Nasional Indonesia, khususnya Angkatan Udara.

Dari situ saya semakin mengerucut, saya ingin menjadi seorang TNI AU, seorang penerbang,” jelasnya.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Bagus mulai mempersiapkan diri sejak sekolah.

 Ia memanfaatkan waktu libur untuk melakukan latihan fisik seperti lari dan olahraga lainnya.

Saat SMA, persiapannya semakin serius.

Ia bahkan berlatih bersama teman sekelas yang juga memiliki keinginan untuk mengabdi kepada negara.

“Setiap ada waktu libur saya selalu mencoba mempersiapkan fisik dan pengetahuan. Biasanya saya lari.

 Kebetulan saat SMA ada teman kelas yang ingin masuk dan sama-sama mengabdi pada negara, jadi kami latihan lari dan latihan fisik bersama,” ujarnya.

Selain lari, Bagus juga memanfaatkan hobinya bermain sepak bola sebagai bagian dari aktivitas olahraga.

Baginya, olahraga bukan hanya untuk menjaga kebugaran, tetapi juga menjadi bagian dari persiapan menghadapi seleksi TNI.

Selepas SMA, Bagus mengikuti seleksi Akademi Angkatan Udara (AAU).

Setelah dinyatakan diterima, ia menjalani pendidikan selama satu tahun di Resimen Chandradimuka, Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah.

Setelah menyelesaikan tahun pertama, pendidikan dilanjutkan di Akademi Angkatan Udara di Yogyakarta selama tiga tahun dan lulus Akademi Angkatan Udara (AAU) 2018.

Setelah lulus dari Taruna Akademi Angkatan Udara (AAU), Bagus mendapatkan kesempatan mengikuti seleksi Sekolah Penerbang.

 

Kesempatan itu berhasil dimanfaatkan hingga akhirnya ia diterima dan mengikuti pendidikan Sekolah Penerbang (Sekbang) A-97.

Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan, Bagus kemudian ditempatkan di Skadron Udara 5 Makassar dan menjalankan tugas sebagai penerbang pesawat Boeing 737-200.

Di Makassar ia juga didampingi istri dan anak tercinta. 

Namun, perjalanan pendidikan tersebut tentu tidak selalu mudah.

 

Bagus mengaku menghadapi berbagai tantangan selama menjalani pendidikan militer yang berlangsung secara bertahap dan penuh tuntutan.

Ketika semangat mulai turun, ia selalu mengingat kondisi keluarganya yang sederhana.

 

 Perjuangan orang tua menjadi pengingat agar dirinya tidak mudah menyerah.

“Tantangan sebenarnya banyak. Saat pendidikan ada tingkatannya, ketika masih di bawah kemudian naik secara bertahap.

 

Alhamdulillah, mungkin karena kami berasal dari keluarga sederhana, setiap kali mulai tidak semangat atau tidak ada motivasi, kami selalu ingat orang tua.”

Ingatan terhadap orang tua itulah yang kembali membangkitkan semangatnya.

“Kami dari keluarga yang sederhana.

Saya ingin membanggakan kedua orang tua dan mengangkat harkat dan martabat keluarga. Dari situ motivasi, keinginan, dan kemampuan itu bisa timbul lagi,” ungkapnya.

Kini, Bagus tidak hanya berhasil mewujudkan cita-cita masa kecilnya menjadi prajurit TNI AU.

 Ia juga telah dipercaya menjalankan tugas sebagai penerbang dan bahkan mendapat kesempatan menjadi Komandan Kompi Paskibraka dalam upacara penurunan bendera di Istana Merdeka.

Bagi Bagus, pencapaian tersebut tidak lepas dari perjuangan, disiplin, dukungan keluarga, serta doa kedua orang tuanya.

 Dari keluarga sederhana di Jombang, ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita. (wen)

Editor : Anggi Fridianto
bagus setianto paskibraka asal jombang putra jombang doa ibu TNI