JOMBANG – Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengingatkan para muktamirin dan warga Nahdlatul Ulama (NU) agar tidak melupakan sosok KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab) saat mengikuti Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, 27-31 Agustus.
’’Jangan sampai menginjakkan kaki di bumi Tambakberas tapi lupa kepada Mbah Wahab,’’ katanya saat menghadiri Istighotsah dan Bedah Buku KH Abdul Wahab Hasbullah Pendiri NU Penggerak NKRI di Auditorium Universitas KH Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas, Sabtu (15/8) malam.
Mbah Wahab sosok yang visioner.
’’Mbah Wahab melihat dunia berubah, kemudian berpikir ulama dan umat Islam harus melakukan apa.
Bukan hanya soal harus mempertahankan.
Bukan apa yang dipertahankan dari warisan masa lalu, tapi apa yang harus diperjuangkan ke depan,’’ tuturnya.
Semangat tersebut harus menjadi ruh dalam pelaksanaan Muktamar ke-35 NU yang akan digelar di Tambakberas.
’’Semangat Mbah Wahab harus menjiwai Muktamar ke-35 NU.
Ini muktamar yang istimewa karena persis di tahun ke-100 dalam penanggalan masehi.
Tempatnya di pesantren tempat lahirnya pendiri NU,’’ urai Gus Yahya.
Karena itu, dia berpesan kepada seluruh muktamirin dan warga NU yang berpartisipasi dalam Muktamar ke-35 agar tidak sekadar datang ke Tambakberas.
Gus Yahya menyinggung situasi dunia ketika Perang Dunia I meletus pada 1914.
Saat itu, Mbah Wahab tengah menuntut ilmu di Makkah yang menjadi salah satu pusat intelektual Islam bersama Damaskus dan Baghdad.
’’Sehingga wakil-wakil Islam di seluruh dunia bisa ditemukan di Makkah,’’ ujar Gus Yahya.
Selain menuntut ilmu, Mbah Wahab juga aktif dalam organisasi Sarekat Islam (SI).
Sepulang dari Makkah, dia kemudian membangun kesadaran nasional melalui pendirian Nahdlatul Wathan pada 1916.
Awalnya, Nahdlatul Wathan dibentuk sebagai kelompok diskusi strategis di kalangan anak muda.
Dalam perkembangannya, organisasi tersebut berubah menjadi lembaga pendidikan berbentuk madrasah dan memiliki cabang di sejumlah wilayah, mulai Jawa Timur hingga Jawa Barat.
Gerakan Mbah Wahab berlanjut pada 1918 dengan berdirinya Nahdlatut Tujjar.
Lembaga tersebut menjadi wadah bagi para saudagar yang dihimpun dari Surabaya dan sekitarnya.
Pada tahun yang sama, muncul kebutuhan membangun lembaga strategis bagi para kiai dan aktivis pesantren, terutama guru serta alumni Nahdlatul Wathan.
Dari kebutuhan itulah kemudian lahir Tashwirul Afkar pada Oktober 1918.
Baca Juga: Sambut Muktamar NU ke-35, 4 Tim Pesantren Adu Kekuatan di Lapangan Untung Suropati
’’Nah, tiga lembaga itulah yang menjadi cikal bakal berdirinya NU yang dideklarasikan pada 1926,’’ ulas Gus Yahya disambut tepuk tangan hadirin.
Sejumlah keturunan Mbah Wahab juga hadir dalam kegiatan tersebut.
Di antaranya Hj Hizbiyah Wahab dan mantan Bupati Jombang Hj Mundjidah Wahab.
Hadir pula keturunan Syaikhona Kholil Bangkalan yang merupakan salah satu guru para pendiri NU.
Di antaranya KH Makki Nasir dan KH Imam Bukhori Kholil.
Perwakilan dari Pesantren Tebuireng, Denanyar, serta Rejoso Peterongan juga tampak hadir.
Dalam kesempatan itu, Gus Yahya menekankan cara berpikir Mbah Wahab dalam menghadapi perubahan zaman.
’’Mbah Wahab tidak hanya memikirkan bagaimana mempertahankan warisan masa lalu, tetapi juga memikirkan apa yang harus diperjuangkan untuk masa depan,’’ tegasnya.
(ang/jif)
Editor : Anggi Fridianto