JOMBANG – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, akhir Agustus mendatang menjadi momentum penting untuk menengok kembali perjalanan kepemimpinan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.
Penelusur sejarah NU Jombang, Moch Faisol, mengatakan sejak berdiri pada 1926 hingga menjelang Muktamar ke-35, NU telah menyelenggarakan 34 kali muktamar dan satu kali Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama pada 1981.
Dari forum-forum tersebut lahir para ulama dan tokoh bangsa yang memimpin NU baik di jajaran Syuriyah maupun Tanfidziyah.
"Kalau melihat perjalanan NU selama hampir satu abad, kepemimpinannya selalu diisi tokoh-tokoh besar yang memiliki kontribusi penting bagi organisasi, umat, bahkan bangsa Indonesia.
Muktamar menjadi ruang kaderisasi sekaligus regenerasi kepemimpinan NU," ujar Faisol.
Menurut dia, jabatan Rais Aam PBNU selama ini didominasi ulama asal Jawa Timur.
Dari 11 tokoh yang pernah menduduki posisi tertinggi di jajaran Syuriyah, lima di antaranya berasal dari Jawa Timur.
Sementara sisanya berasal dari Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Sulawesi Tengah, dan Banten.
Sedangkan pada posisi Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, dominasi tokoh asal Jawa Timur terlihat lebih kuat.
Dari 12 tokoh yang pernah menjabat, sembilan di antaranya berasal dari Jawa Timur.
"Ini menunjukkan Jawa Timur memang memiliki posisi historis yang sangat kuat dalam perjalanan NU.
Apalagi NU lahir di Surabaya dan berkembang dari jaringan pesantren yang banyak berada di Jawa Timur," jelasnya.
Faisol menambahkan, daftar kepemimpinan PBNU dari masa ke masa juga menjadi gambaran bagaimana NU terus melakukan regenerasi kepemimpinan tanpa meninggalkan tradisi keilmuan dan nilai-nilai yang diwariskan para muassis.
"Siapa pun yang terpilih dalam muktamar nanti akan menjadi bagian dari mata rantai sejarah panjang NU yang sudah berjalan hampir 100 tahun," pungkasnya.
Daftar Rais Aam PBNU dari Masa ke Masa
-
KH M Hasyim Asy’ari (1926–1947) – Jawa Timur
-
KH Abdul Wahab Chasbullah (1947–1971) – Jawa Timur
-
KH M Bisri Syansuri (1971–1980) – Jawa Timur
-
KH Ali Maksum (1980–1984) – DI Yogyakarta
-
KH Achmad Shiddiq (1984–1991) – Jawa Timur
-
KH Ali Yafie (1991–1992) – Sulawesi Tengah
-
KH M Ilyas Ruhiyat (1992–1999) – Jawa Barat
-
KH Sahal Mahfudz (1999–2014) – Jawa Tengah
-
KH A Mustofa Bisri (2014–2015) – Jawa Tengah
-
KH Ma’ruf Amin (2015–2020) – Banten
-
KH Miftachul Akhyar (2020–2026) – Jawa Timur
Daftar Ketua Umum Tanfidziyah PBNU dari Masa ke Masa
-
H Hassan Gipo (1926–1934) – Jawa Timur
-
KH Mohammad Noer (1934–1937) – Jawa Timur
-
KH Mahfudz Siddiq (1937–1943) – Jawa Timur
-
KH Nachrowi Thohir (1943–1944) – Jawa Timur
-
KH M Dachlan (1944–1948) – Jawa Timur
-
KH Abdul Wahid Hasyim (1948–1952) – Jawa Timur
-
KH Masjkur (1952–1954) – Jawa Timur
-
KH M Dachlan (1954–1956) – Jawa Timur
-
KH Idham Chalid (1956–1984) – Kalimantan Selatan
-
KH Abdurrahman Wahid (1984–1999) – Jawa Timur
-
KH Hasyim Muzadi (1999–2010) – Jawa Timur
-
KH Said Aqil Siroj (2010–2021) – Jawa Barat
-
KH Yahya Cholil Staquf (2021–2026) – Jawa Tengah