JOMBANG – Pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas pada 27–31 Agustus mendatang akan menjadi catatan tersendiri dalam sejarah organisasi.
Sebab, Jombang kembali dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar NU untuk kedua kalinya setelah sebelumnya menggelar forum tertinggi organisasi tersebut pada 2015 lalu.
Penelusur sejarah NU Jombang, Moch Faisol, mengatakan sepanjang sejarah berdirinya NU sejak 1926, pelaksanaan muktamar telah digelar di berbagai daerah di Indonesia.
Namun, hanya beberapa kota yang mendapat kesempatan menjadi tuan rumah lebih dari satu kali.
Menurut dia, Surabaya tercatat sebagai kota yang paling sering menjadi penyelenggara Muktamar NU.
Kota Pahlawan tersebut menjadi tuan rumah sebanyak enam kali, yakni pada 1926, 1927, 1928, 1940, 1954, dan 1971.
Di bawah Surabaya, terdapat Jakarta dan Surakarta yang masing-masing telah tiga kali menjadi tuan rumah muktamar.
Jakarta menggelar muktamar pada 1933, 1950, dan 1959.
Sementara Surakarta menjadi lokasi penyelenggaraan pada 1935, 1962, dan 2004.
Baca Juga: Jelang Muktamar NU di Jombang,Tujuh Ruko dan Dua Fasum Akan Dibongkar untuk Akses Venue Pembukaan
“Kalau dilihat dari sejarahnya, hanya sedikit daerah yang berulang kali dipercaya menjadi tuan rumah.
Surabaya paling banyak dengan enam kali penyelenggaraan,” ujar Faisol.
Ia menambahkan, Bandung dan Semarang masing-masing tercatat dua kali menjadi penyelenggara.
Bandung menggelar Muktamar NU pada 1932 dan 1967.
Sedangkan Semarang menjadi tuan rumah pada 1929 dan 1979.
Jombang sendiri kini sejajar dengan Bandung dan Semarang sebagai daerah yang dua kali dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar NU.
Setelah sukses menggelar Muktamar ke-33 pada 2015, Jombang kembali mendapat amanah menjadi lokasi Muktamar ke-35 tahun 2026.
Menurut Faisol, terpilihnya Jombang tidak lepas dari posisi daerah ini sebagai salah satu pusat perkembangan NU.
Jombang dikenal sebagai kota santri yang menjadi tempat lahir dan berkembangnya banyak pesantren besar serta tokoh-tokoh penting NU.
“Jombang memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan NU.
Banyak ulama besar NU berasal dan berjuang dari Jombang,” katanya.
Berdasarkan catatan sejarah, daftar kota penyelenggara Muktamar NU meliputi Surabaya sebanyak enam kali, Jakarta tiga kali, Surakarta tiga kali, Bandung dua kali, Semarang dua kali, dan Jombang dua kali.
Sementara daerah yang masing-masing satu kali menjadi tuan rumah adalah Pekalongan (1930), Cirebon (1931), Banyuwangi (1934), Banjarmasin (1936), Malang (1937), Pandeglang (1938), Magelang (1939), Purwokerto (1946), Madiun (1947), Palembang (1952), Medan (1956), Situbondo (1984), Bantul (1989), Tasikmalaya (1994), Kediri (1999), Makassar (2010), dan Lampung Tengah (2021).
Berikut daftar lengkap kota penyelenggara Muktamar NU:
- Surabaya = 6 kali (1926, 1927, 1928, 1940, 1954, 1971)
- Jakarta = 3 kali (1933, 1950, 1959)
- Surakarta = 3 kali (1935, 1962, 2004)
- Bandung = 2 kali (1932, 1967)
- Semarang = 2 kali (1929, 1979)
- Jombang = 2 kali (2015, 2026)
- Pekalongan = 1 kali (1930)
- Cirebon = 1 kali (1931)
- Banyuwangi = 1 kali (1934)
- Banjarmasin = 1 kali (1936)
- Malang = 1 kali (1937)
- Pandeglang = 1 kali (1938)
- Magelang = 1 kali (1939)
- Purwokerto = 1 kali (1946)
- Madiun = 1 kali (1947)
- Palembang = 1 kali (1952)
- Medan = 1 kali (1956)
- Situbondo = 1 kali (1984)
- Bantul = 1 kali (1989)
- Tasikmalaya = 1 kali (1994)
- Kediri = 1 kali (1999)
- Makassar = 1 kali (2010)
- Lampung Tengah = 1 kali (2021)
Pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas diperkirakan akan dihadiri ribuan peserta dari seluruh Indonesia serta sejumlah tamu dari luar negeri.
Baca Juga: Tinggal 17 Hari, Gus Ipul Sebut Persiapan Muktamar NU di Tambakberas Jombang Sudah Lebih 50 Persen
Karena itu, berbagai persiapan terus dimatangkan oleh panitia pusat maupun panitia lokal agar pelaksanaan muktamar berjalan lancar.
Muktamar tidak hanya menjadi forum pemilihan kepemimpinan organisasi, tetapi juga menjadi momentum penting untuk merumuskan arah gerak NU menghadapi berbagai tantangan sosial, pendidikan, ekonomi, dan kebangsaan di masa depan.
(ang)
Editor : Anggi Fridianto