Pemuda Jombang Rela Lepas Beasiswa Maroko Demi Wujudkan Mimpi Kuliah di Al-Azhar Mesir, Ini Sosoknya

Wenny Rosalina • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 06:40 WIB
GIGIH: Daukas Syah Rosyada asal Dusun Jembaran, Desa Jombok, Kecamatan Ngoro, Jombang yang kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir.
GIGIH: Daukas Syah Rosyada asal Dusun Jembaran, Desa Jombok, Kecamatan Ngoro, Jombang yang kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir.

 

JOMBANG – Keinginan kuat menimba ilmu di Universitas Al-Azhar Mesir mengantarkan Daukas Syah Rosyada meraih beasiswa penuh dari Helwa Center.

Pemuda asal Dusun Jembaran, Desa Jombok, Kecamatan Ngoro ini bahkan rela melepas beasiswa ke Maroko demi mengejar cita-citanya belajar di pusat keilmuan Islam dunia.

Lahir di Jombang, 7 April 2004, putra pasangan Bey Arifin dan Farida ini sejak kecil tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan pendidikan agama.

Pendidikan dasarnya ditempuh di MI Islamiyah Genukwatu, Ngoro.

Sepulang sekolah, ia menghabiskan waktu untuk mengaji di Ma’had Mahsuroh mulai siang hingga sore.

Kebiasaan itu dijalani sejak kelas 4 MI hingga lulus.

Selepas MI, Daukas melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an (MQ) Tebuireng.

Di pesantren tersebut ia fokus menyelesaikan hafalan Alquran hingga berhasil menjadi hafiz 30 juz.

Setelah itu, ia pindah ke Pondok Pesantren Al-Falah Ploso.

Baca Juga: Bikin Santri Semangat Ngaji, Gus Sentot Luncurkan Safari Cerita Islami Gratis ke TPQ

Guna memperdalam kemampuan membaca kitab kuning, ilmu nahwu, dan sharaf yang menjadi kekuatan pesantren salaf.

’’Di MQ memang fokus utamanya Alquran.

Setelah hafalan selesai, saya ingin belajar kitab kuning lebih dalam.

Karena itu saya memilih melanjutkan ke Al-Falah,’’ tuturnya.

Setelah tiga tahun menempuh pendidikan di Al-Falah Ploso, tekad Daukas untuk kuliah di Mesir semakin kuat.

Baginya, Mesir bukan sekadar tujuan studi, melainkan pusat perkembangan keilmuan Islam moderat (wasathiyah) yang menjadi rujukan dunia, termasuk Indonesia.

Ia mengaku sempat mempelajari berbagai jalur beasiswa ke Mesir pada 2025.

Mulai dari Baitul Mal Muamalat (BBMU), Baznas, Lembaga Pengembangan Pesantren Dunia (LPPD) Jawa Timur, hingga Kementerian Agama.

Namun, saat itu hanya beasiswa Kementerian Agama yang dibuka.

Dalam seleksi tersebut, Daukas justru dinyatakan lolos beasiswa ke Maroko.

Meski demikian, ia memilih mengundurkan diri setelah berdiskusi panjang dengan keluarga.

’’Pertimbangannya karena saya memang sejak awal ingin belajar di Mesir.

Selain itu, saya melihat sistem keilmuan di Mesir lebih sesuai dengan kebutuhan dakwah di Indonesia yang mayoritas bermadzhab Syafi'i,’’ katanya.

Keputusan itu akhirnya terbayar.

Di tahun yang sama, Daukas berhasil lolos seleksi beasiswa Helwa Center, program beasiswa penuh yang baru pertama kali dibuka.

Seleksinya tidak mudah.

Tahap pertama berupa ujian tulis yang menguji kemampuan nahwu, sharaf, balaghah, dan imlak.

Tahap kedua berupa wawancara daring menggunakan bahasa Arab, hafalan Alquran minimal lima juz, serta wawasan kebangsaan.

Dari seluruh peserta, hanya empat orang yang dinyatakan lolos menerima beasiswa penuh.

Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Daukas yang menjadi wakil dari Jombang.

Beasiswa tersebut menanggung seluruh kebutuhan.

Mulai dari biaya kuliah di Al-Azhar, tiket pesawat, tempat tinggal, hingga biaya hidup.

Sebagai penerima beasiswa, Daukas juga mendapat amanah menjadi pembina bagi pelajar Indonesia tingkat SMP dan SMA yang belajar di Mesir.

Di Universitas Al-Azhar, ia memilih program Dirasat Islamiyah, jurusan yang mempelajari berbagai disiplin ilmu keislaman, mulai dari fikih, tafsir, hadis, hingga akidah.

Saat ini Daukas masih menjalani masa persiapan sebelum perkuliahan dimulai pada akhir September.

Sehari-hari ia mengikuti kelas bahasa Arab dan komunitas belajar bahasa Arab Amiyah, dialek yang digunakan masyarakat Mesir dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, bahasa Arab yang dipelajari di Indonesia merupakan bahasa Arab fusha atau bahasa baku.

Sementara masyarakat Mesir lebih banyak menggunakan bahasa Amiyah sehingga kemampuan beradaptasi menjadi tantangan tersendiri.

’’Di kampus nanti memang menggunakan bahasa Arab fusha.

Tetapi saat berinteraksi dengan masyarakat, di pasar atau transportasi umum misalnya, mereka menggunakan bahasa Amiyah.

Jadi saya harus belajar keduanya,’’ urainya.

Meski harus beradaptasi dengan lingkungan dan bahasa baru, Daukas optimistis mampu menyelesaikan studinya tepat waktu dalam empat tahun.

Ia berharap ilmu yang diperoleh di Mesir kelak dapat dibawa pulang untuk memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia, khususnya di bidang pendidikan dan dakwah. (wen/jif)

Editor : Anggi Fridianto
Al Azhar Mesir Beasiswa Al Azhar Daukas Syah Rosyada Jombang Ngoro Jombang