JOMBANG - Di tengah kesibukan Panitia Lokal (Panlok) Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menyiapkan venue dan akomodasi, ada satu warung legendaris yang wajib dikunjungi muktamirin ketika tiba di Lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang.
Ya, Warung Bu Jujuk, biasa kalangan santri, alumni, dan pelanggan menyebutnya.
Warung sederhana menempati bahu jalan Dusun Tambakberas Gang IV, Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang ini menghadirkan kudapan lele bumbu rujak beraroma autentik.
Berdiri sejak tahun 1980, eksistensi warung tersebut kini tak lekang oleh waktu. Buka dari pukul 04.00 hingga 09.00 WIB, warung yang dirintis almarhumah Siti Zulaikah, nama asli Bu Jujuk, warga setempat, selalu habis dalam waktu kurang dari lima jam.
Baca Juga: Gus Zuem: Muktamar Banyak Kamar
Hal ini tak lain karena cita rasa lele bumbu rujak yang diwariskan kepada putra keempatnya, Ahmad Syafi'i, tak pernah berubah.
Lele yang digoreng lalu ditaburi topping bumbu rujak melimpah, lengkap dengan irisan mentimun segar sebagai lalapan, sukses membuat lidah para pelanggan dan para santri ketagihan.
“Ini pakai santan, ada ciri khasnya sendiri,” tutur Syafi'i, putra keempat almarhumah Bu Jujuk.
Kendati bangunan warungnya tampak sederhana dengan penataan meja dan kursi seadanya, namun kondisi tersebut tak lantas memengaruhi kedatangan pelanggan dari berbagai daerah.
Cita rasa yang dijaga selama puluhan tahun membuat lele bumbu rujak Warung Bu Jujuk ini tetap eksis dan bahkan laris manis.
Menyimpan cerita dan kenangan dari masa ke masa. Terutama di hati para alumni PPBU lintas generasi. Di samping harganya ramah di kantong, perpaduan bumbu dan rempah tradisional khas rumahan ini bikin siapapun yang datang tak akan mudah melupakan. “Untuk seporsi lele bumbu rujak harganya cuma Rp 12 ribu,” imbuhnya.
“Harga bali dan kare ayam juga sama, kecuali bali telur Rp 10 ribu per porsi. Sedangkan teh dan kopi Rp 3 ribu dan Rp 4 per gelas,” tambahnya sembari menjelaskan menu andalan lainnya.
Syafi’i menceritakan Bu Jujuk merupakan sapaan akrab mendiang Siti Zulaikah yang meninggal pada 2013 lalu. Berkat ilmu dan resep yang diwariskan, sepeninggalan ibunya, ia memutuskan melanjutkan usaha kuliner rintisan keluarga tersebut.
“Sejak tahun 2010, tempat makan ini saya kelola,” tambah pria kelahiran Dusun Tambakberas, Desa Tambakrejo ini sembari melayani pesanan pembeli.
Menurut Syafi'i, insipirasi almarhumah ibunya menjual menu lele bumbu rujak datang dari peternak lele sekaligus guru di Muallimin Muallimat Atas (MMA) Bahrul Ulum, H Kasturi.
Harga jual lele yang murah saat itu, kemudian dikembangkan Bu Jujuk menjadi menu yang unik dan berbeda. Terlebih kudapan kala itu belum satupun warung nasi di lingkungan pesantren yang menjual menu serupa.
Di era 1990-an siswa santri MTsN Tambakberas dapat dibilang menjadi pelanggan tetap. Memasuki jam istirahat mereka berbondong-bondong memesan menu lele bumbu rujak Bu Jujuk.
Pelayanan yang diberikan relatif cepat. Kendati terbatas bangunan tembok, namun pihak sekolah mengizinkan Bu Jujuk melayani para siswa melalui akses tembok sekolah yang dilubangi berukuran 50 x 50 sentimeter.
Lubang tersebut cukup untuk menyodorkan seporsi menu pesanan kepada siswa dan transaksi pembayaran. “Terus itu berkembang, kebanyakan pesanan dari pondok-pondok, alumni-alumni juga suka," paparnya.
Lele bumbu rujak Warung Bu Jujuk disajikan hanya dengan nasi hangat. Daging lele yang lembut dan gurih, meresap dengan bumbu gurih dan pedas. Santan kental menjadi kunci rahasia yang membuat kuliner legendaris ini maknyus di lidah.
Syafi'i menyatakan, dalam sehari rata-rata mampu menghabiskan 7-8 kilogram (kg) ikan lele. Selebihnya jika ada acara-acara tertentu, tak jarang ia menambah volume lauk hingga 25 kg lele. Dari usaha warungan ini Syafi’i pun mampu meraih omzet hingga Rp 1 juta per hari.
Disinggung terkait pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di PPBU Tambakberas pada 27-31 Agustus 2026 mendatang, ia berencana menambah jam berjualan hingga pukul 18.00 WIB.
Termasuk kebutuhan lele sebagai menu andalan. “Bisa jadi buka sampai Magrib. Tapi lihat dulu, tidak menutup kemungkinan sampai malam, nanti kalau ada saudara yang membantu saya berjualan,” pungkasnya. (ris)
Editor : Anggi Fridianto