JOMBANG - Keterbatasan ekonomi tak menghalangi langkah Catur Ratna Sa’adah meraih prestasi. Perempuan asal Desa Karangwinongan, Kecamatan Mojoagung itu kini menjalani penelitian di Korea Selatan sebagai wakil Indonesia dalam program ASEAN-Korea Young Scholar Research Grant.
Sejak kecil, Nana sudah terbiasa belajar dan membaca. Kebiasaan itu menjadi bekal utama hingga mampu menembus program riset internasional. ”Sejak SD saya memang suka belajar dan membaca. Saya juga suka menulis cerita pendek dari kecil,” ujarnya.
Nana menempuh pendidikan di SDN Karangwinongan 2, SMPN 1 Mojoagung, dan MAN 1 Jombang. Ia kemudian melanjutkan studi Sastra Jepang di Universitas Airlangga. Selama kuliah, Nana mengandalkan beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP). Di tengah keterbatasan, ia juga mendapat bantuan dari keluarga. ”Selama kuliah saya juga dibantu tante dan saudara. Karena kalau hanya mengandalkan uang KIP sebenarnya belum cukup untuk hidup di Surabaya,” katanya.
Kondisi tersebut justru memacu semangatnya untuk terus berprestasi. ”Dari dulu saya memang tipe orang yang ambisius. Saya selalu berpikir kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak bisa,” tuturnya.
Semangat itu membawanya lolos program fast track dan melanjutkan S2 lebih cepat saat masih menyelesaikan S1. ”Harusnya saya baru lulus S1, tapi karena ikut fast track jadi bisa lanjut S2 lebih cepat,” ujarnya.
Kesempatan ke Korea Selatan datang saat ia mendapat informasi program riset dari dosen pembimbing. Meski waktu persiapan singkat, Nana mampu menyusun proposal dalam kurang dari sepekan. ”Waktu itu saya dapat informasinya sudah H-6 penutupan pendaftaran. Jadi saya benar-benar fokus menyelesaikan proposal riset,” katanya.
Kini, ia menjalani riset di Korea Selatan dan bersiap mempresentasikan hasilnya di forum internasional. ”Kalau belajar dipaksakan malah tidak masuk. Saya lebih fleksibel. Tapi memang dari kecil saya lebih suka belajar dan membaca daripada main,” katanya.
Meski perjalanan akademiknya masih panjang, Nana kini memiliki cita-cita baru. Jika dulu ingin menjadi dokter, kini ia justru tertarik menekuni dunia penelitian. ”Sekarang saya ingin jadi peneliti,” pungkas mahasiswi program Pasca Sarjana Unair Prodi Kajian Sastra dan Budaya tersebut. (wen/naz)
Editor : Anggi Fridianto