Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Likuiditas dan Modal BRI Tetap Tebal di Tengah Gejolak Global, Kredit UMKM Siap Tancap Gas

Achmad RW • Jumat, 29 Mei 2026 | 11:05 WIB
Ilustrasi BRI
Ilustrasi BRI

RadarJombang – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI kembali menunjukkan ketahanan kinerja keuangan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Hingga Triwulan I 2026, BRI mampu menjaga kondisi likuiditas dan permodalan tetap kuat sekaligus mempertahankan pertumbuhan bisnis secara sehat.

Direktur Finance & Strategy BRI, Achmad Royadi, mengatakan rasio likuiditas perseroan masih berada pada level ideal dan jauh di atas ketentuan regulator.

Baca Juga: Belanja di Tokopedia Pakai Kartu Kredit BRI Bisa Hemat Rp100 Ribu, Ini Syaratnya

“Hingga akhir Maret 2026, loan to deposit ratio atau LDR BRI tercatat 86,7 persen. Menurut kami angka ini masih ideal dalam mengelola fungsi intermediasi,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut memberi ruang yang cukup bagi BRI untuk terus mendorong pertumbuhan kredit, termasuk pembiayaan produktif dan sektor UMKM.

Selain menjaga likuiditas, BRI juga berhasil memperbaiki struktur pendanaan dengan menekan biaya dana atau cost of fund secara signifikan.

Baca Juga: Dukung Perekonomian, BRI Salurkan KUR Rp65,95 Triliun, Jangkau 558 Ribu Petani dan 23 Ribu Nelayan per April 2026  

Hingga Triwulan I 2026, cost of fund berbasis dana pihak ketiga turun dari 3 persen menjadi 2,3 persen atau turun 65 basis poin dibanding periode yang sama tahun lalu.

Penurunan tersebut sejalan dengan meningkatnya rasio dana murah atau CASA yang naik dari 65,8 persen menjadi 68,1 persen.

Achmad menjelaskan, penguatan struktur dana murah menjadi bagian penting dalam menjaga efisiensi biaya sekaligus memperkuat kualitas pendanaan perusahaan.

“Hal ini tidak hanya untuk memastikan kecukupan dana, tetapi juga berdampak langsung pada efisiensi biaya dana serta kualitas struktur pendanaan yang semakin optimal,” katanya.

Di sisi lain, kondisi permodalan BRI juga disebut sangat kuat. Hingga akhir Maret 2026, Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI tercatat mencapai 22,90 persen atau jauh di atas batas minimum regulator untuk bank sistemik.

Dengan posisi modal tersebut, BRI dinilai memiliki ruang yang besar untuk melakukan ekspansi bisnis secara prudent sekaligus menjaga ketahanan menghadapi berbagai potensi risiko ekonomi.

“Struktur permodalan BRI saat ini memberikan ruang yang fleksibel untuk terus mendorong pertumbuhan kredit tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian,” ujar Achmad.

BRI memastikan akan terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, ketahanan likuiditas dan kekuatan modal agar tetap mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan, khususnya melalui pembiayaan sektor produktif dan UMKM. (riz)

Editor : Achmad RW
#likuiditas #modal #bank bri