JOMBANG – Jemaah haji asal Kabupaten Jombang yang tergabung dalam SUB Kloter 61 telah menjalani mabit atau bermalam di Musdalifah sebagai bagian dari rangkaian wajib ibadah haji 1447 Hijriah.
Ketua Rombongan 1 SUB Kloter 61 sekaligus Pembimbing Ibadah Haji (PIH) KBIHU Thoriqul Jannah, Zulfikar Damam Ikhwanto Adhim mengatakan, perjalanan menuju Musdalifah dilakukan pada malam hingga dini hari usai pelaksanaan wukuf di Arafah. ”Jamaah kemudian melakukan mabit di Musdalifah. Ini menjadi salah satu rangkaian wajib dalam ibadah haji,” katanya.
Ia menjelaskan, Musdalifah merupakan kawasan terbuka yang berada di antara Arafah dan Mina. Tempat tersebut menjadi lokasi persinggahan jemaah haji setelah wukuf di Arafah sebelum melanjutkan perjalanan ke Mina untuk melaksanakan lontar jumrah.
Baca Juga: Puncak Ibadah Haji, Jemaah Haji Jombang Jalani Wukuf di Arafah dengan Kusyuk
Dalam sejarah ibadah haji, Nabi Muhammad SAW juga melakukan mabit di Musdalifah. Karena itu, jemaah dianjurkan memperbanyak doa, zikir, membaca talbiyah, serta memperbanyak istigfar selama berada di lokasi tersebut. ”Musdalifah adalah tempat yang mustajabah untuk berdoa. Jamaah dianjurkan memperbanyak doa dan zikir di sana,” ujarnya.
Selain berdoa, jemaah juga disunahkan beristirahat atau tidur sejenak di Musdalifah. Waktu mabit biasanya berlangsung setelah tengah malam hingga menjelang subuh sebelum jemaah diberangkatkan ke Mina.
Di lokasi tersebut, jemaah umumnya juga mengumpulkan batu kerikil yang nantinya digunakan untuk lontar jumrah di Mina. Batu yang diambil disarankan berukuran kecil agar mudah digunakan saat prosesi lempar jumrah.
Zulfikar menambahkan, jemaah diimbau menjaga kondisi fisik karena cuaca di Musdalifah cenderung panas pada siang hari dan cukup dingin saat malam.
Jemaah juga diminta tidak berdesakan, tidak memisahkan diri dari rombongan, serta menghindari membawa barang berlebihan agar perjalanan menuju Mina tetap lancar dan aman. ”Yang terpenting jamaah tetap menjaga kesehatan, mengikuti arahan petugas, dan tidak memaksakan diri,” katanya. (ang/naz)
Editor : Anggi Fridianto