JOMBANG – Suasana Ramadan di Ras Al Khaimah, Uni Emirat Arab, berlangsung meriah dengan berbagai tradisi khas Timur Tengah. Namun, di balik kemeriahan tersebut, warga juga tetap meningkatkan kewaspadaan menyusul situasi keamanan regional.
Hal itu disampaikan Sunarto, alumni PP MQ Tebuireng Jombang yang kini menjadi imam di Masjid Ali bin Hasan.
’’Ras Al Khaimah berjarak sekitar 98 kilometer dari Dubai,’’ ucapnya. Ini menjadi salah satu wilayah yang turut merasakan semarak Ramadan. Pemerintah setempat menghias jalanan dengan lampu dan atribut bernuansa Ramadan.
”Beberapa masjid besar juga menyediakan tenda untuk distribusi ifthar (buka puasa) bagi masyarakat,’’ ujarnya.
Pemerintah melalui lembaga keagamaan juga menggelar jaizah atau musabaqah tilawatil Quran tingkat internasional. Serta menghadirkan imam-imam masyhur dari berbagai negara untuk mengisi tarawih dan ceramah Ramadan.
Suasana ibadah berlangsung khusyuk dan ramai. Masjid dipadati jamaah, sementara aktivitas ekonomi meningkat dengan banyaknya toko yang buka hingga dini hari.
’’Biasanya toko tutup jam 11 malam, tapi saat Ramadan bisa sampai jam 2 pagi. Diskon juga banyak,’’ katanya.
Menu berbuka yang umum disajikan antara lain nasi mandhi, bubur haris, dan luqaimat. Meski tidak ada pasar Ramadan khusus seperti di Indonesia, masyarakat tetap berburu takjil di masjid yang menyediakan ifthar gratis.
’’Menjelang berbuka, antrean di masjid selalu ramai,’’ tambahnya.
Selama Ramadan, salat tarawih dilaksanakan delapan rakaat ditambah witir tiga rakaat, dengan doa qunut sejak malam pertama. Durasi tarawih dibatasi sekitar 45 menit, kecuali di masjid besar. Setiap bakda Asar juga digelar kajian, sementara sepuluh malam terakhir diisi qiyamul lail.
’’Tadarus tidak memakai pengeras suara luar, tapi jamaah lebih banyak membaca Alquran di dalam masjid,’’ jelasnya.
Sunarto mengungkapkan, wilayah tempat tinggalnya berada dekat Selat Hormuz. Sehingga sempat merasakan dampak situasi keamanan.
’’Sering terdengar suara ledakan, bahkan pernah sampai jendela ikut bergetar,’’ ungkapnya.
Kendati demikian, ia memastikan kondisi tetap terkendali. Pemerintah setempat mengimbau warga untuk tetap berada di dalam rumah demi keamanan.
’’Alhamdulillah aman. Imbauan dari pemerintah diminta tetap di dalam rumah, karena sasarannya hanya pangkalan-pangkalan tertentu,’’ jelasnya.
Aktivitas ibadah di masjid pada umumnya tetap berjalan normal. Namun, sempat terjadi satu momen ketika jamaah panik akibat peringatan darurat dari pemerintah.
’’Pernah saat salat Isya, semua HP jamaah berbunyi alarm peringatan, sehingga banyak yang memilih pulang,’’ katanya.
Dalam waktu dekat, Sunarto berencana pulang ke Indonesia untuk cuti pada 4 April mendatang. Ia berharap kondisi keamanan semakin kondusif.
’’Mohon doanya, semoga perjalanan pulang lancar dan bandara sudah aman,’’ ungkapnya. (wen/jif)
Editor : Anggi Fridianto