RadarJombang.id - Saat khotbah di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Jumat (14/3), Ustad Hasanudin, menjelaskan Lailatul Qadar.
’’Amal di malam Lailatul Qadar seperti amal seribu bulan,’’ tuturnya.
Pertama, ini malam turunnya Alquran. Sebagaimana disebutkan di Surat Al-Qadr ayat 1. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam Lailatul Qadar.
Kemuliaan malam tersebut karena menjadi waktu turunnya Alquran, kitab yang menjadi petunjuk bagi seluruh manusia.
Ibnu Abbas RA berkata: Alquran diturunkan sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke langit dunia pada malam Lailatul Qadar, kemudian diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.
Imam Al-Awza’i, ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan hampir tidak tidur. Beliau membaca Alquran berulang-ulang sepanjang malam.
Ketika ditanya mengapa begitu bersungguh-sungguh, beliau berkata: ’’Bagaimana aku tidak memuliakan malam yang Allah pilih untuk menurunkan firman-Nya?’’
Kedua, lebih baik dari seribu bulan. Disebutkan di QS Al-Qadr 3; Malam Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan.
Seribu bulan setara dengan sekitar 83 tahun. Ibadah pada malam tersebut lebih baik daripada ibadah selama 83 tahun.
Rasulullah bersabda: Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Barangsiapa salat dua rakaat pada malam Lailatul Qadar, maka Allah mengampuni dosanya.
Rasulullah pernah menceritakan seorang dari Bani Israil yang puasa dan jihad perang di siang hari dan salat malam di malam hari selama seribu bulan tanpa henti.
Para sahabat merasa umat Nabi Muhammad tidak mungkin menandingi amal tersebut karena umur mereka lebih pendek.
Lalu Allah menurunkan surat Al-Qadr sebagai karunia bagi umat ini.
Maka satu malam Lailatul Qadar dapat menyamai bahkan melebihi ibadah seribu bulan tersebut.
Ketiga, turunnya malaikat dan rahmat Allah. QS Al-Qadr 4; Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril).
Mlaikat turun dalam jumlah sangat banyak karena banyaknya keberkahan pada malam tersebut.
Rasulullah bersabda: Pada malam Lailatul Qadar turun malaikat ke bumi lebih banyak daripada jumlah kerikil.
Para malaikat membawa rahmat dan mendoakan orang-orang yang beribadah.
Hasan Al-Bashri pernah berkata: Pada malam Lailatul Qadar, malaikat turun mengelilingi majelis zikir sebagaimana lebah mengelilingi bunga.
Muridnya berkata bahwa suatu malam ia merasakan ketenangan luar biasa ketika berzikir hingga menangis tanpa sebab yang jelas. Hasan Al-Bashri berkata: Mungkin itu malam yang dipenuhi malaikat.
Keempat, malam penuh kedamaian. QS. Al-Qadr 5; Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.
As-Salam berarti kedamaian, keselamatan, dan keberkahan yang menyelimuti malam tersebut.
Kemuliaan malam tersebut benar-benar dirasakan ketika muncul kesadaran spiritual dalam hati manusia melalui ibadah dan kedekatan kepada Allah Ta’ala.
Kesadaran spiritual ini melahirkan ketenangan dan kedamaian dalam hati. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang (QS Ar-Ra’d 28).
Imam Malik berkata: Aku tidak tahu kapan tepatnya Lailatul Qadar, tetapi aku merasakan malam yang sangat damai hingga air mataku mengalir saat berdoa.
Rasulullah sangat bersungguh-sungguh mencari Lailatul Qadar. Aisyah radiyallahu anha berkata: Rasulullah bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir Ramadan melebihi kesungguhan beliau pada malam-malam lainnya.
Nabi juga mengajarkan doa saat Lailatul Qadar; Allahumma innaka afuwwun tuhubbil afwa fa’fu anni. Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai memaafkan, maka maafkanlah aku. (jif/naz)
Editor : Achmad RW