JOMBANG – Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid kembali menyapa masyarakat Jombang melalui agenda sahur keliling, Minggu dini hari (1/3).
Kegiatan yang digelar bersama Komunitas GUSDURian Jombang tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim Seblak, Kecamatan Diwek, mulai pukul 02.00 WIB hingga menjelang Subuh.
Sahur kebangsaan ini menjadi ruang perjumpaan ratusan peserta dari beragam latar belakang. Turut hadir pejabat daerah, tokoh lintas agama, komunitas masyarakat sipil, santri, hingga kelompok duafa dan masyarakat marjinal seperti tukang becak, pengamen, pemulung, buruh, serta kelompok minoritas.
Kehadiran istri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid itu disambut antusias warga. Sejak awal acara, suasana kebersamaan terasa kuat. Rangkaian kegiatan diawali penampilan lintas budaya seperti barongsai dan banjari sebagai simbol harmoni dalam keberagaman.
Acara inti dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Subhanul Wathon, dilanjutkan pembacaan ayat suci Alqur’an sebelum memasuki sesi sambutan dan dialog.
Dalam sambutannya, Shinta Nuriyah menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan kebangsaan di tengah berbagai tantangan sosial dan dinamika demokrasi. Ia menekankan Indonesia berdiri di atas fondasi keberagaman.
”Indonesia ini beragam. Justru karena keberagaman itulah kita kuat. Saya selalu ingin Ramadan menjadi ruang untuk merangkul semuanya, tanpa melihat latar belakang agama, suku, maupun status sosial,” ujarnya.
Ia menyampaikan tradisi sahur dan buka puasa bersama lintas iman yang selama ini dijalankan bukan sekadar seremoni, melainkan pesan kebangsaan yang terus dirawat.
”Kita harus menganggap bahwa kita semua bersaudara. Karena hakikatnya kita adalah satu. Satu nusa satu bangsa dan satu bahasa. Itulah semboyan yang kita sebut sebagai Bhinneka Tunggal Ika,” ungkapnya, yang kemudian diikuti hadirin dengan menyanyikan lagu Satu Nusa Satu Bangsa.
Dalam sesi dialog, Shinta juga memandu diskusi terkait hakikat puasa Ramadan. Sejumlah peserta menyampaikan pandangan mereka tentang puasa sebagai ibadah kesabaran dan keikhlasan. Menanggapi hal tersebut, ia menekankan puasa tidak boleh berhenti pada formalitas tahunan.
”Inilah hakikat puasa. Jadi puasa yang kita lakukan adalah puasa yang revolusioner. Yang bisa mengubah perilaku dari jelek menjadi baik. Dan semua perubahan itu adalah menjadi baik hingga bertakwa,” tutur Bunyai Shinta.
Menurutnya, Ramadan harus menjadi momentum pembenahan diri sekaligus pembenahan sosial. Ketika bangsa menghadapi bencana dan tantangan demokrasi, ruang-ruang kebersamaan seperti sahur lintas kalangan menjadi penting untuk memperkuat empati dan solidaritas. (ang/naz)
Editor : Anggi Fridianto