Radarjombang.id - Event tahunan Kenduri Durian atau Kenduren di Wonosalam dipastikan tidak digelar pada 2026.
Keputusan ini diambil menyusul rendahnya tingkat keberhasilan panen durian akibat curah hujan tinggi yang berdampak signifikan pada produktivitas buah.
Plt Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jombang, Hartono, menyampaikan keputusan tersebut telah dibahas bersama unsur kecamatan dan pemerintah desa di wilayah Wonosalam.
“Kenduren 2026 tidak dilaksanakan. Sudah dilakukan rapat bersama camat dan lurah di Wonosalam,” kata Hartono kemarin (5/2).
Ia menjelaskan, Kenduren merupakan agenda yang identik dengan durian lokal Wonosalam. Pemerintah dan masyarakat setempat tidak berkenan jika acara tersebut diisi durian dari luar daerah. “Petani durian Wonosalam tidak berkenan kalau diisi durian dari luar. Agendanya memang durian Wonosalam,” ujarnya.
Menurut Hartono, penggunaan durian dari luar daerah justru berpotensi menghilangkan esensi Kenduren sebagai perayaan panen raya durian lokal. Kondisi panen tahun ini dinilai tidak memungkinkan untuk menggelar kegiatan tersebut.
Ia menyebut, tingkat keberhasilan panen durian turun drastis. Dari sebelumnya sudah berada di kisaran 50 persen, kini kembali merosot hingga sekitar 20 persen. “Panennya di bawah lima puluh persen. Sekarang turun lagi, tinggal sekitar dua puluh persen,” ucapnya.
Kondisi tersebut membuat hasil panen petani tidak mencukupi, bahkan untuk kebutuhan penjualan sehari-hari. Situasi ini menjadi pertimbangan utama pembatalan Kenduren. “Untuk jualan saja tidak nutup,” kata Hartono.
Ia juga memastikan Kenduren tidak memungkinkan untuk diundur ke akhir tahun. Sebab, Kenduren selalu berkaitan dengan momentum panen raya durian yang umumnya terjadi pada Januari hingga Februari. “Namanya Kenduri Durian itu panen raya. Panen raya biasanya Februari, kadang mundur Maret kalau terlambat,” ujarnya.
Hartono mengakui, wacana menggelar rangkaian acara tanpa Kenduren utama sempat muncul. Namun hingga kini, hal tersebut belum dibahas secara detail bersama Asosiasi Pariwisata Jombang (Asparjo). “Kalau rangkaiannya memang pernah digagas, tapi belum dibicarakan lagi,” katanya.
Alternatif mengangkat komoditas lain seperti alpukat atau salak juga sempat dipertimbangkan. Namun hasilnya dinilai belum maksimal karena kondisi alam yang sama. “Alpukat tidak maksimal, salak juga,” ucapnya.
Ia menilai, curah hujan tinggi menjadi faktor utama yang memengaruhi kegagalan panen. Hartono menyebut kondisi tersebut murni faktor alam yang tidak bisa dihindari. “Ini tergantung alam,” ujarnya.
Selain faktor produksi, kekhawatiran muncul jika pelaksanaan acara justru memicu masalah baru, terutama jika durian harus didatangkan dari luar daerah seperti Jepara. “Kalau tahu dari luar, malah tambah masalah,” katanya.
Terkait anggaran, Hartono menyebut dana Kenduren sejatinya sudah tersedia dan siap digunakan, termasuk untuk pembelian durian. Namun karena kondisi panen tidak memungkinkan, anggaran tersebut dipastikan tidak terserap. “Anggaran sudah ada dan siap. Tapi karena tidak ada Kenduren ya tidak terserap,” ujarnya.
Ke depan, Disporapar Jombang berencana melakukan koordinasi pasca-Lebaran untuk membahas langkah promosi wisata alternatif di Wonosalam. Konsep tersebut akan disesuaikan dengan kondisi alam dan kesiapan pelaku wisata setempat. “Nanti koordinasi lagi,” katanya.
Meski demikian, Hartono mengakui keterbatasan anggaran juga menjadi tantangan tersendiri. Saat ini, anggaran pariwisata yang tersedia dinilai sangat minim. “Anggaran sekarang memang sangat minim,” pungkasnya. (ang)
Editor : Anggi Fridianto