Radarjombang.id – Proyek irigasi Pariterong (Papar–Turi–Peterongan) berpotensi jadi proyek gagal.
Meski konstruksi fisik sepanjang 17 kilometer rampung sejak akhir 2024 dengan anggaran puluhan miliar rupiah, saluran irigasi itu hingga kini tak kunjung bisa dimanfaatkan petani. Beberapa kali dilakukan uji coba selalu gagal.
Plt Kepala Dinas PUPR Jombang Imam Bustomi tak menampik hingga kini proyek irigasi Pariterong belum berfungsi sesuai perencanaan awal. Pemkab Jombang sudah berulang kali berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas selaku pemilik kewenangan irigasi itu.
”Kami sudah melakukan koordinasi. Bahkan sempat dilakukan uji coba pengaliran air beberapa waktu lalu,” ujar Bustomi.
Sejumlah uji coba pengaliran air selalu berakhir tidak maksimal. Debit air yang direncanakan mencapai 5 kubik per detik, nyatanya hanya mampu mengalir sekitar 2 kubik. Hasil uji coba berulang menunjukkan adanya masalah serius.
”Setelah dicek, penyebab utamanya sedimentasi di sejumlah titik saluran. Kondisi ini membuat irigasi tidak bisa berfungsi sesuai rencana,” ujarnya.
Pendangkalan saluran disebut tak lepas dari pembangunan yang dilakukan bertahap selama puluhan tahun.
Akibatnya, beberapa segmen mengalami kerusakan dan butuh normalisasi. Namun hingga kini, tindak lanjut dari BBWS Brantas belum jelas. ”Kami sudah bersurat dan berkoordinasi, tapi belum ada penanganan nyata,” tambahnya.
Sementara itu, hingga berita ini ditulis belum ada tanggapan pihak BBWS Brantas. Direksi Lapangan PPK Irigasi dan Rawa 2 BBWS Brantas Dodik Rohmad Supriyadi belum berhasil dikonfirmasi. Baik melalui sambungan selulernya maupun pesan WhatsApp belum ada jawaban.
Sebelumnya, Humas PT Wijaya Karya (Wika) JET KSO (Kerja Sama Operasi) Suryadi pada Desember 2024 lalu menjelaskan, ketika pekerjaan sudah tuntas 100 persen, nantinya bakal ditindaklanjuti dengan pengecekan lapangan.
”Pada saat pekerjaan selesai akan dilakukan pengecekan bersama tim konsultan dan pengguna jasa sebelum dilakukan BAST (Berita Acara Serah Terima),” ujar Suryadi
. Menurut Suryadi, pihaknya tetap memiliki kewajiban untuk melakukan pemeliharaan . ”Jadi, setelah itu akan memasuki masa pemeliharaan selama 365 hari atau satu tahun,” tutur
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Jombang, Sultoni, menyebut proyek berada di bawah kewenangan Perum Jasa Tirta (PJT) dan BBWS Brantas. Dua kali uji alir pada akhir 2024 belum berjalan mulus.
”Sudah dua kali dilakukan uji alir, tapi belum maksimal. Fungsinya tidak sesuai rencana karena pembangunan tidak dilakukan sekaligus. Butuh hampir 20 tahun baru selesai,” ungkapnya, Jumat (14/3.
Sedimentasi di hulu, tepatnya di Kecamatan Perak, diduga menjadi penghambat. ”Bangunan lama penuh sedimen, perlu pengerukan agar uji alir bisa lancar dan kapasitas irigasi sesuai rencana,” imbuhnya. Saat uji coba, air dari Induk Mrican tak bisa masuk ke saluran Pariterong.
”Sudah diisi 3 meter kubik, tapi di hulu langsung penuh, air tak bisa mengalir,” tandasnya.
Data dihimpun, pembangunan jaringan irigasi ini sempat mangkrak sebelum akhirnya kembali dilanjutkan beberapa kali. Namun, meski puluhan miliar rupiah sudah digelontorkan, hasilnya tetap belum bisa dimanfaatkan petani.
Pada 2018, Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air dan Satker BBWS Brantas mengerjakan paket bernama Peningkatan Jaringan Irigasi Peterongan DI Mrican Kanan Jombang.
Anggaran yang dikucurkan mencapai Rp 14,3 miliar dari APBN dengan masa pekerjaan 300 hari kalender sejak 13 Februari 2018.
Empat tahun berselang, proyek kembali dilanjutkan dengan pagu anggaran Rp 48,5 miliar. PT Modern Makmur Mandiri ditetapkan sebagai pemenang tender dengan nilai negosiasi Rp 38,7 miliar.
Tak berhenti di situ, pada 2023 pemerintah pusat kembali menggelontorkan dana untuk penyelesaian tahap akhir.
Jaringan irigasi sepanjang 9 kilometer digarap melintasi 10 desa di tiga kecamatan: Diwek, Jogoroto, dan Mojowarno. Pekerjaan dibagi dua segmen, masing-masing ditangani PT Waskita Karya dan PT Wijaya Karya (Wika).
Desember 2024, proyek dinyatakan rampung dan dilakukan pengecekan bersama tim konsultan serta pengguna jasa sebelum serah terima pekerjaan. Namun, hingga kini saluran irigasi yang digadang-gadang menopang sektor pertanian itu tak kunjung berfungsi.(fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto