RadarJombang.id – Ribuan warga Nahdliyin mengikuti Napak Tilas Isyaroh Pendirian Nahdlatul Ulama dari Pendopo Kabupaten Jombang menuju Pondok Pesantren Tebuireng, Minggu (4/1/2026) malam.
Meski diguyur hujan gerimis, rombongan tetap berjalan kaki sejauh sekitar 6 kilometer hingga tiba di Tebuireng.
Napak tilas dimulai sekitar pukul 20.00 WIB setelah Bupati Jombang Warsubi melepas rombongan dari Pendopo Kabupaten.
Kirab ini diikuti ulama, Banser, dan warga Nahdliyin dari berbagai wilayah di Jombang.
Warsubi menegaskan napak tilas ini bukan sekadar kegiatan seremonial peringatan satu abad NU.
“Ini momentum untuk meneladani perjuangan para muassis,” ujarnya. Ia berharap kegiatan tersebut membawa keberkahan sekaligus memperkuat nilai kebersamaan di lingkungan NU.
Rombongan bergerak tertib meninggalkan Pendopo, melintasi sejumlah ruas jalan menuju Kecamatan Diwek.
Aparat kepolisian dan Banser melakukan pengamanan di sepanjang rute, sementara mobil informasi Radio Suara Jombang milik Dinas Kominfo Kabupaten Jombang turut mengiringi perjalanan.
Sekitar pukul 21.30 WIB, rombongan tiba di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Desa Cukir.
Rombongan inti yang dipimpin Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, KH Raden Ahmad Azaim Ibrahimy, kemudian menuju Ndalem Kasepuhan Tebuireng.
Di tempat tersebut, KH Azaim Ibrahimy menyerahkan tongkat dan tasbih yang dibawanya dari Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan kepada KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, cicit pendiri NU KH Hasyim Asy’ari.
Tongkat dan tasbih itu dikenal sebagai simbol restu berdirinya Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
Prosesi penyerahan berlangsung singkat dan khidmat, disaksikan para ulama dan jamaah.
Setelah itu, rombongan melanjutkan kegiatan dengan ziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari di kompleks Makam Masyayikh Tebuireng, dilanjutkan doa bersama.
Gus Kikin menyebut napak tilas ini menjadi pengingat penting bagi perjalanan NU yang telah memasuki usia satu abad.
“Ini cara kita mengingat kembali sejarah NU,” katanya.
Menurutnya, NU ke depan harus tetap berpijak pada ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah, sekaligus mampu merespons perkembangan zaman.
“Pesan para muassis, NU harus menyesuaikan perubahan zaman agar tetap menjadi wadah umat,” ujarnya.
Seluruh rangkaian napak tilas berlangsung aman dan lancar hingga selesai.
Kirab malam itu menjadi penutup perjalanan napak tilas sekaligus penanda langkah NU memasuki abad keduanya.(riz)
Editor : Achmad RW