ALHAMDULILLAH, kabar ishlah antara Rais Aam dan Ketua Umum PBNU yang disepakati di Pondok Lirboyo layak disyukuri. Bagi warga Nahdliyin, ini seperti telah berakhirnya parade sound horeg di sekitar rumah.
Suasana yang panas sedikit mendingin, kegaduhan mereda, dan NU kembali tampak teduh di hadapan jamaahnya.
Namun orang pesantren diajari untuk tidak hanya melihat air yang tenang di permukaan, tetapi juga mengukur arus di bawahnya. Karena itu, ishlah ini patut disambut dengan syukur, sekaligus dengan kejujuran batin.
Sebab jika dicermati, saya lihat ishlah tersebut bukanlah sulh ( perdamaian) dalam makna yang utuh.
Ia bukan perjumpaan hati yang saling memaafkan dan menutup luka lama, melainkan kesepakatan organisatoris untuk mempercepat muktamar agar konflik diselesaikan secara konstitusional sesuai AD/ART NU.
Secara hukum organisasi, ini sah. Secara etika kelembagaan, ini tertib. Namun secara ruh jam’iyah, ia mengabarkan bahwa konflik itu belum selesai. Hanya berpindah tempat.
Saya yakin, sepulang dari Lirboyo, para pihak yang berseberangan itu tak sebersyukur para Nahdliyin di luaran.
Beliau-beliau justru meningkatkan konsolidasi yang lebih senyap, strategi yang lebih matang, dan hitung-hitungan yang lebih cermat. Muktamar pun berpotensi bergeser dari majlis syura menjadi arena penentuan pemenang yang dilegalkan.
Itulah pertimbangan saya menyebut pertemuan Lirboyo 25 Desember itu sebagai ishlah setengah hati. Sedikit menurunkan suhu, tetapi belum menyembuhkan luka. Bisa padamkan nyala api, tetapi belum memadamkan bara. Sebuah jeda, untuk “pertandingan” selanjutnya.
Padahal NU lahir dari pesantren yang memaknai ishlah sebagai laku adab, bukan sekadar prosedur.
Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari sejak awal menekankan bahwa kekuatan NU bukan semata pada struktur, melainkan pada akhlak dan niat khidmah. NU dibangun bukan hanya dengan aturan, tetapi dengan adab. Yang bisa dimaknai: bukan hanya dengan kecerdikan, tetapi dengan keikhlasan.
Maka, jika ishlah berhenti pada kesepakatan formal, ia hanya menjadi gencatan senjata. Dan gencatan senjata selalu menyimpan potensi konflik lanjutan yang lebih sunyi, lebih tertata, tetapi bisa lebih tajam. NU tidak boleh terjebak pada perdamaian prosedural yang hampa dari ruh ukhuwah.
Sebagai warga Nahdliyin, tentu berhak berharap lebih. Sebab NU bukan milik elite semata. NU adalah milik jamaah tahlilan di berbagai pelosok desa. Milik ibu-ibu Muslimat yang setia bershalawat.
Milik santri yang diajari tawadhu’. Dan tentu saja milik para kiai kampung yang sepanjang hidupnya membersamai umat. Mereka berharap muktamar menjadi majlis hikmah, bukan sekadar arena pertarungan yang sah.
Namun harapan itu sepertinya makin jauh dari kenyataan, karena ketika saya menuangkan tulisan ini, tiba-tiba muncul kontroversi baru.
Sesuai AD/ART bahwa penyelenggara Muktamar adalah Rois Aam dan Ketua Umum PBNU, namun kemarin ada info bahwa figur Ketua Umum yang dimaksud adalah kiai yang dipilih dari keputusan rapat pleno di hotel Sultan. Dengan pertimbangan bahwa keputusan tersebut belum di-mansukh ( dibatalkan ).
Itu tentu di luar dugaan para mustasyar di Lirboyo kemarin. Saya langsung pusing. Saya tutup WORD di laptop, saya ganti buka YouTube. Ternyata malah bikin pusing, karena berita tentang RK dengan para teman wanitanya di Bandung, muncul terus di beranda saya. Akhirnya saya lanjutkan tulisan ini lagi.
Saya kehabisan kata-kata. Karena harapan untuk segera melihat NU sebagai organisasi yang teduh dan menyejukkan, porak-poranda seketika. Semula kita hanya bertanya soal kapan muktamar diselenggarakan. Kini pertanyaan itu mundur seribu langkah, karena siapa yang memiliki otoritas sebagai penyelenggara, masih harus dimusyawarahkan.
Lepas dari konflik para pihak di atas, saya sebagai nahdliyin pinggir kali, hanya bisa bermohon kepada Allah SWT. Semoga para pemimpin NU dianugerahi kelapangan dada, kejernihan niat, dan keberanian menundukkan ego. Agar muktamar segera terlaksana dan tak hanya sah secara konstitusi, tetapi juga berkah secara ruhani. Sebab NU terlalu besar untuk disandera ambisi, dan terlalu mulia untuk diselesaikan dengan ishlah tanpa sepenuh hati.
Wallahu a‘lam, semoga jam’iyah ini selalu dijaga Allah dalam barakah para kiai dan doa orang-orang kecil yang setia mencintainya.
Editor : Anggi Fridianto