Radarjombang.id – Proyek rehabilitasi Bendung Karet Jatimlerek dipastikan masuk tahap pelaksanaan dengan skema multiyears hingga 2027.
Proyek bernilai Rp 264 miliar tersebut dikerjakan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dan bersumber dari APBN.
Pemerintah Desa (Pemdes) Jatimlerek, Kecamatan Plandaan, telah menerima surat resmi dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas terkait rencana rehabilitasi bendung.
Kepala Desa Jatimlerek Jadi mengatakan, surat dari BBWS Brantas diterima pada 15 Desember lalu.
Surat tersebut berisi pemberitahuan rencana rehabilitasi Bendung Jatimlerek dengan sistem pengerjaan multiyears.
”Jadi BBWS Brantas sudah menyurati desa tanggal 15 Desember. Isinya pemberitahuan akan ada rehab bangunan Bendung Jatimlerek 2025 sampai 2027. Tapi, kapan pelaksanaannya, kami belum tahu,” ujar Jadi.
Ia berharap, proyek bernilai ratusan miliar tersebut tidak mengganggu sektor pertanian, khususnya sistem irigasi di wilayah utara Sungai Brantas yang selama ini bergantung keberadaan bendung.
”Harapan dari desa, dari sektor pertanian dan masyarakat, semoga tidak mengganggu irigasi pertanian,” imbuhnya.
Berdasarkan penjelasan awal dari BBWS Brantas, selama proses rehabilitasi, bangunan bendung akan dibendung sementara.
Aliran Sungai Brantas direncanakan dialihkan melalui sisi selatan, tepatnya di wilayah Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh.
”Informasinya, air Sungai Brantas akan dilewatkan sebelah selatan,” jelasnya.
Dengan skema tersebut, aliran irigasi ke wilayah utara Sungai Brantas dinilai masih berpotensi tetap aman.
”Kalau secara teknis seperti itu, pengairan irigasi di utara Brantas kelihatannya masih aman. Mungkin antisipasinya dari balai seperti itu,” katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, proyek rehabilitasi Bendung Karet Jatimlerek merupakan proyek strategis nasional dengan nilai pagu mencapai Rp 264 miliar.
Proyek tersebut telah melalui proses tender dan dimenangkan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, salah satu BUMN karya.
Bendung Karet Jatimlerek merupakan bendung karet pertama yang dibangun di Sungai Brantas. Dibangun pada 1989 dan selesai pada 27 November 1992.
Bendung ini berperan vital dalam mendukung sistem irigasi di wilayah utara Sungai Brantas.
Air dari Bendung Jatimlerek mengairi lahan pertanian di sejumlah desa. Antara lain Desa Jatimlerek, Desa Karangmojo, Desa Purisemanding, Kecamatan Plandaan hingga Desa Tanggungkramat serta Desa Jatigedong, Kecamatan Ploso. Cakupan lahan sawah mencapai 1.818 hektare.
Selama ini, bendung beberapa kali mengalami kebocoran, yang berdampak pada penurunan elevasi air Sungai Brantas di bagian hulu.
Kondisi tersebut menyebabkan air tidak dapat masuk ke Intake Saluran Irigasi Jatimlerek secara optimal.
Terakhir, pada 2016 BBWS Brantas sempat mengganti badan karet dengan yang baru. Namun kebocoran kembali terjadi, terutama pada bentang karet nomor 6 pada 2024 lalu dan dilakukan penambalan karet.
Kepala Dinas PUPR Jombang Bayu Pancoroadi menyebut, proyek tersebut sepenuhnya berada di bawah kewenangan BBWS Brantas.
Dari informasi yang diterima, konsep bendung juga akan diubah. ”Informasi awal, bendung akan diubah menjadi bendung gerak seperti Rolak 9 Mojokerto. Bendung karet operasionalnya sulit, terutama jika terjadi kebocoran,” ujarnya, Senin (8/12).
Sebelum pekerjaan fisik dimulai, BBWS Brantas dijadwalkan melakukan koordinasi dan sosialisasi dengan pemerintah desa, Hippa, serta para petani terdampak guna memastikan proyek multiyears bernilai ratusan miliar tersebut berjalan tanpa mengganggu aktivitas pertanian warga. (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto