Radarjombang.id - Forum Sesepuh dan Mustasyar Nahdlatul Ulama yang berkumpul di Pesantren Tebuireng menyerukan dua hal usai menggelar pertemuan tertutup, Sabtu (6/12).
Pertama, terkait kepedulian nasional atas bencana yang melanda berbagai daerah di Sumatera dan Aceh. Kedua, menjaga keteduhan dalam menyikapi polemik di internal PBNU.
Dalam suasana hangat dan penuh keakraban, para sesepuh NU, mustasyar, serta jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU hadir untuk bermusyawarah di dalem kasepuhan Tebuireng Jombang.
Forum dihadiri beberapa tokoh. Di antaranya, Dr KH Umar Wahid dan KH. Abdul Hakim Mahfudz selaku sohibul bait. Serta tokoh-tokoh sepuh seperti Prof Dr KH Ma’ruf Amin dan KH Abdullah Ubab Maimoen yang bergabung melalui zoom. Hadir di lokasi, Dr KH Said Aqil Siradj, KH. Anwar Manshur Lirboyo, dan KH Nurul Huda Djazuli Ploso Kediri.
Juru Bicara Forum Sesepuh dan Mustasyar Nahdlatul Ulama, HM Abdul Mu’id Lirboyo, menyampaikan, ada dua pesan utama dalam pertemuan tersebut. Pertama, para sesepuh NU sangat berduka atas bencana yang terjadi di sejumlah daerah. Musibah ini membutuhkan empati bersama dan gerak cepat dari semua pihak.
’’Para sesepuh menyampaikan doa dan belasungkawa sedalam-dalamnya. Kita berharap masyarakat yang terdampak diberi kekuatan dan segera mendapatkan pertolongan terbaik,’’ kata Abdul Mu’id.
Forum juga mendorong pemerintah untuk memastikan penanganan bencana berjalan maksimal, termasuk langkah antisipatif agar kejadian serupa tidak berulang.
’’Forum mengingatkan pentingnya penegakan aturan bagi siapa pun yang merusak alam tanpa memikirkan keseimbangan lingkungan. Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab moral kita bersama,’’ ungkapnya.
Terkait pemakzulan ketua umum PBNU, forum menilai perlu ada kehati-hatian dan penyikapan yang bijaksana.
’’Para sesepuh melihat bahwa proses pemakzulan tidak sesuai dengan ketentuan AD/ART. Namun di sisi lain, ada informasi penting yang tetap harus diklarifikasi melalui mekanisme organisasi. Karena itu, forum meminta semua pihak menahan diri,’’ jelas Abdul Mu’id.
Forum Sesepuh mengajak seluruh pihak untuk menahan diri, menjaga ketertiban organisasi, dan menghindari langkah yang berpotensi memperbesar ketegangan. ’’Forum menegaskan bahwa persoalan ini hendaknya diselesaikan melalui mekanisme internal NU. Tanpa melibatkan institusi atau proses eksternal, demi menjaga kewibawaan jam’iyyah dan memelihara NU sebagai aset besar bangsa,’’ tegasnya.
Pada kesempatan itu, Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, hadir bersama Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU, H Amin Said Husni, dan Bendahara Umum PBNU, Sumantri Suwarno.
Gus Yahya mengaku senang menghadiri undangan para kiai sepuh dan mustasyar. ’’Saya sangat terharu bahwa para sesepuh kita masih begitu peduli kepada jam’iyah Nahdlatul Ulama ini,’’ urainya.
Gus Yahya menegaskan sangat terbuka untuk islah. ’’Saya juga sudah memberikan klarifikasi melalui utusan rais am,’’ tegasnya.
(ang/jif)
Editor : Anggi Fridianto