SAAT ngaji usai salat Duha di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (26/11), Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Jombang, KH Agung Bahroni, menjelaskan resep hidup tenang. ’’Sayidina Ali bin Abi Thalib radiyallahu anhu berkata; ada empat jalan menuju ketenangan hidup,’’ tuturnya.
Pertama, istirahatnya tubuh ada pada sedikit makan. Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Tidak ada wadah yang lebih buruk yang diisi oleh anak Adam selain perutnya. Cukuplah bagi manusia beberapa suap yang menegakkan tulang punggungnya.
Makanan yang berlebihan membuat tubuh berat, hati malas, ibadah sulit, pikiran tumpul. Imam al-Ghazali berkata: Kenyang mengeraskan hati dan melemahkan keinginan untuk ibadah.
Para wali Allah seperti Ibrahim bin Adham dan Sufyan Ats-Tsauri dikenal makan sedikit, tetapi kuat beribadah sepanjang malam. Mereka percaya bahwa perut yang penuh memadamkan cahaya ruhani.
Sedikit makan badan ringan, ibadah mudah, fikiran jernih.
Kedua, istirahatnya jiwa ada pada sedikit melakukan dosa. Inilah kunci ketenangan batin. Dosa tampak nikmat sesaat, tetapi menyisakan gelisah yang panjang. Sebagaimana disebutkan dalam QS Ar-Ra’d 28. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.
Nabi bersabda; Apabila seorang hamba berbuat dosa, maka terdapat noktah hitam di hatinya. Setiap dosa menambah kegelapan hingga hati sehingga tidak lagi merasakan nikmat iman.
Imam Ibn Qayyim berkata: Tidak ada sesuatu yang lebih menyiksa hati dibanding dosa.
Imam Syafi’i mengeluh kehilangan hafalan. Lalu gurunya, Imam Waki’ menasihati agar meninggalkankan maksiat. Sehingga hafalannya kuat.
Ketiga, istirahatnya hati ada pada sedikit kekhawatiran. Bukan meninggalkan tanggung jawab, tetapi menyelamatkan hati dari mencemaskan dunia yang berlebihan.
Sebagaimana disebutkan dalam Quran Surat Yunus 62–63. Ingatlah, wali-wali Allah tidak ada rasa takut pada diri mereka dan tidak pula mereka bersedih.
Ini karena mereka menyerahkan urusan dunia pada Allah Ta’ala.
Nabi bersabda; Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Allah memberi kalian rezeki sebagaimana burung diberi rezeki: pagi lapar, pulang kenyang.
Hasan al-Bashri berkata: Barangsiapa mengenal Allah, ia tidak akan terlalu sedih atas dunia yang hilang darinya.
Keempatm istirahatnya lidah ada pada sedikit bicara. Nabi bersabda; Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata baik atau diam. Sesungguhnya seseorang mengucapkan satu kalimat saja yang membuat Allah murka, ia terjerumus ke dalam neraka sedalam tujuh puluh tahun.
Karena itu Imam Nawawi berkata: Diam adalah keselamatan, dan kata-kata yang baik adalah kemuliaan.
Seorang ulama berkata: Aku menyesal atas kata-kata yang kuucapkan, tetapi tidak pernah menyesal karena diam. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto