Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

IPOC 2025 Resmi Dibuka di Bali, 1.500 Peserta dari 28 Negara Bahas Masa Depan Sawit Dunia

Anggi Fridianto • Jumat, 14 November 2025 | 00:19 WIB
Konferensi sawit terbesar dan paling berpengaruh di dunia, 21st Indonesian Palm Oil Conference & 2026 Price Outlook (IPOC 2025), resmi dibuka Kamis (13/11) pagi
Konferensi sawit terbesar dan paling berpengaruh di dunia, 21st Indonesian Palm Oil Conference & 2026 Price Outlook (IPOC 2025), resmi dibuka Kamis (13/11) pagi

Radarjombang.id – Konferensi sawit terbesar dan paling berpengaruh di dunia, 21st Indonesian Palm Oil Conference & 2026 Price Outlook (IPOC 2025), resmi dibuka Kamis (13/11) pagi di Bali International Convention Center (BICC), The Westin Resort Nusa Dua. Ajang tahunan ini menjadi pusat pertemuan pemangku kepentingan global untuk membahas arah baru industri sawit dunia.

 

Ketua Pelaksana IPOC 2025, Mona Surya, dalam sambutannya menyampaikan bahwa perjalanan dua dekade konferensi ini mencerminkan kekuatan komunitas sawit dunia. “Setiap tahun, ketika saya berdiri di panggung ini, saya selalu merasakan kebanggaan yang besar. IPOC adalah homecoming tahunan kita. Dari awal yang sederhana, kini menjadi ajang global yang ditunggu dunia,” ujarnya.

 

Mona menegaskan, kekuatan utama IPOC terletak pada interaksi lintas negara yang mendorong kolaborasi dan inovasi. Tema tahun ini, “Navigating Complexity, Driving Growth: Governance, Biofuel Policy and Global Trade”, dianggap relevan dengan tantangan industri sawit yang kian kompleks, mulai dari volatilitas harga hingga hambatan dagang seperti EUDR.

 

Tahun ini, IPOC mencatatkan rekor baru dengan 1.545 peserta dari 28 negara serta dukungan 113 booth pameran dan 38 sponsor.

 

Ketua GAPKI, Eddy Martono, dalam pidatonya menyampaikan bahwa kinerja industri sawit nasional tetap solid hingga September 2025. Produksi telah menembus 43 juta ton atau naik 11 persen, sedangkan ekspor mencapai lebih dari 25 juta ton dengan devisa senilai USD 27,3 miliar, meningkat 40 persen dibanding tahun lalu.

 

“Detak industri kita sangat kuat. Namun, di tengah capaian ini, kita menghadapi tantangan baru, mulai dari stagnasi produktivitas hingga regulasi global seperti EUDR. ISPO harus menjadi global gold standard yang membuktikan bahwa keberlanjutan adalah komitmen, bukan slogan,” tegas Eddy.

 

Ia juga menyoroti pentingnya peremajaan perkebunan sebagai langkah strategis untuk menjaga daya saing jangka panjang. Selain itu, kebijakan biofuel seperti B35 dan B40 disebut berperan besar menjaga stabilitas permintaan domestik dan mendukung target penurunan emisi nasional.

 

Dalam kesempatan tersebut, Eddy mengumumkan koperasi pekebun paling produktif tahun ini berasal dari Kutai Timur, Kalimantan Timur, dengan produktivitas mencapai 37,4 ton TBS per hektare. Ia juga mengapresiasi inovasi generasi muda melalui National Palm Oil Hackathon 2025, yang dimenangkan Tim BiFlow dari ITS Surabaya berkat teknologi “RAPIDS” berbasis machine learning untuk deteksi penyakit Ganoderma.

 

Selain itu, diumumkan pula kerja sama internasional Elaeidobius Consortium antara Indonesia dan Tanzania Agricultural Research Institute untuk meningkatkan efisiensi penyerbukan kelapa sawit.

 

Konferensi IPOC 2025 akan berlangsung hingga 14 November 2025, menghadirkan pembicara kelas dunia seperti Thomas Mielke (Oil World), Julian Conway McGill (Glenauk Economics), dan Ryan Chen (Cargill China). Agenda akan membahas kebijakan domestik, regulasi global, hilirisasi, biofuel, serta arah strategis industri sawit tahun 2026.

Editor : Anggi Fridianto
#Bali #konferensi #2025 #IPOC