Radarjombang.id – Musim giling 2025 menjadi tonggak sejarah baru bagi PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) Pabrik Gula (PG) Djombang Baru. Pasalnya, untuk pertama kalinya, proses giling berlangsung selama 148 hari. Melampaui rata-rata musim giling sebelumnya yang berkisar 110 hari.
”Musim giling kami dimulai 19 Mei dan berakhir 13 Oktober. Ini merupakan rekor giling terpanjang sepanjang operasional PG Djombang Baru,” ungkap General Manajer PG Djombang Baru, Adisolech Wicaksono A ST.
Dampak dari perpanjangan musim giling ini signifikan. Target penggilingan yang ditetapkan sebesar 196 ribu ton tebu, kini berhasil dilampaui dengan capaian 273 ribu ton tebu tergiling. Dari sisi produksi, PG Djombang Baru berhasil menghasilkan 17.500 ton gula, meningkat 19 persen dari target sebesar 14.800 ton.
”Capaian ini tidak hanya menggembirakan dari sisi kuantitas, tapi juga menunjukkan kinerja yang semakin solid dan efisien,” imbuh dia.
Menjelang musim giling 2026 nanti, pihaknya tengah melakukan monitoring dan evaluasi pascagiling sebagai bentuk persiapan awal menyusun strategi yang lebih baik lagi. Salah satu fokus utama, meningkatkan kemitraan dengan petani tebu. Baik dari segi kuantitas pasokan maupun kualitas bahan baku.
”Target kami tidak hanya mempertahankan capaian tahun ini, tapi juga meningkatkannya. Kolaborasi dengan petani sangat penting, termasuk dalam menyukseskan program pemerintah seperti bongkar ratoon CPCL (Calon Petani Calon Lahan),” tutur dia.
Program itu diharapkan, dapat meningkatkan produktivitas tebu dan mendorong petani untuk memperluas areal tanam mereka. Dengan begitu, upaya pemerintah menuju swasembada gula nasional dapat semakin dekat terwujud.
PG Djombang Baru juga terus memperkuat koordinasi lintas sektor. Salah satunya, kolaborasi dengan PG Tjoekir dalam menjalankan program-program pemerintah yang didukung dana APBN, serta bersinergi dengan Dinas Pertanian (Disperta) Jombang.
”Semua ini bagian dari komitmen kami untuk menyukseskan program strategis nasional. Kami optimistis, dengan kolaborasi yang erat, musim giling 2026 ke depan akan lebih baik dari tahun ini,” pungkas Adisolech.
SEMENTARA itu, PG Djombang Baru menegaskan komitmen terus memperbaiki dampak lingkungan yang ditimbulkan selama musim giling. Terutama, lokasi pabrik berada di kawasan padat penduduk, dan di pusat Jombang kota.
General Manajer (GM) PG Djombang Baru Adisolech Wicaksono A ST menjelaskan, proses evaluasi musim giling 2025 dilakukan secara menyeluruh sebagai dasar pembenahan menjelang musim giling 2026.
”Pabrik kami berada di tengah kota, sehingga interaksi dengan masyarakat sangat intens. Memang tidak semua keluhan bisa langsung kami tangani, namun kami berupaya semaksimal mungkin menyesuaikan dengan kemampuan pabrik untuk meminimalisir dampak yang dirasakan warga,” kata Adi.
Selama musim giling 2025, PG Djombang Baru sudah melakukan sejumlah langkah mitigasi. Seperti pemberian bantuan sembako, kegiatan bersih-bersih masjid dan musala, serta penyiraman jalan di area terdampak debu.
”Meski belum maksimal, ini menjadi bahan evaluasi penting. Tahun depan, penyiraman akan kami perluas. Ke depan jadwalnya akan kami tambah dan wilayah yang disiram juga akan diperluas,” imbuh dia.
Salah satu perhatian utama, bagaimana memperluas bantuan sosial kepada masyarakat terdampak. Ini akan dilakukan dengan tetap mempertimbangkan kemampuan operasional dan keuangan pabrik.
”Kami menyadari tidak mungkin dampak itu hilang sepenuhnya. Tapi, tugas kami menekan serendah mungkin.” ujar Adi.
Selain aspek lingkungan, PG Djombang Baru juga berharap bisa memberikan kontribusi positif secara ekonomi dan sosial kepada Kabupaten Jombang. Terlebih moment Hari Jadi ke-115 Pemkab Jombang.
"Kami ingin keberadaan PG Djombang Baru di kota ini memberi manfaat langsung. Minimal bisa menyerap tenaga kerja lokal dan ikut menambah pendapatan daerah. Harapannya, perekonomian Jombang bisa semakin bergerak dengan kehadiran kami,” kata Adi. (fid/jif)
Editor : Anggi Fridianto