Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal 2.511, Muslim yang Bijak

Rojiful Mamduh • Jumat, 17 Oktober 2025 | 14:09 WIB

 

 

Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

SAAT ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Polres Jombang, Kamis (16/10), Pengasuh PP Raudlatul Tholibin Tambakberas, Dr KH Ahmad Fathoni Zen, menjelaskan pentingnya menjadi muslim yang bijak. ’’Kita harus bijak bukan hanya dalam bersikap, tetapi juga dalam berbicara dan menasihati,’’ tuturnya.

 

 Islam tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga adab dalam menyampaikan kebenaran. Dalam kehidupan yang singkat ini, kita dituntut untuk selalu mawas diri.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Orang cerdas adalah yang menundukkan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.

 

Kecerdasan sejati bukan diukur dari kepintaran duniawi, tetapi dari sejauh mana seseorang menyiapkan bekalnya untuk akhirat. Maka, dalam menasihati orang lain, kita pun harus introspeksi: apakah kita sudah memperbaiki diri sebelum menuntut orang lain berubah?

 

Allah Ta’ala mengingatkan dalam QS Albaqarah 44. Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri...?

 

Imam Hasan al-Bashri pernah berkata: Sesungguhnya orang berilmu adalah yang ilmunya tampak dalam amalnya. Jika ilmunya belum tampak dalam amalnya, maka ilmunya belum benar-benar sampai pada hatinya.

Rasulullah bersabda: Seorang muslim adalah yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.

 

Di zaman digital, jari-jari kita dapat menjadi "senjata" yang menyakiti sesama. Menyebarkan keburukan orang lain, membuka aib di media sosial, kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat.

 

Allah Ta’ala berfirman di QS Qaf 18. Tiada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.

 

Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu berkata: Barangsiapa banyak bicaranya, maka banyak pula kesalahannya. Barangsiapa banyak salahnya, maka banyak dosanya.

 

Maka, kendalikan lisan dan jari. Jika tidak bisa memberi manfaat, diam lebih selamat.

Rasulullah bersabda: Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.

 

Sebagai pemimpin, baik itu atas keluarga, komunitas, atau bahkan hanya diri sendiri, kita memiliki tanggung jawab dalam membina dan mengingatkan. Namun, cara menyampaikan nasihat adalah kunci.

 

Imam Syafi’i rahimahullah berkata: Barangsiapa yang menasihati saudaranya secara rahasia, maka ia telah menasihatinya dan memperbaikinya. Dan barangsiapa yang menasihatinya secara terang-terangan, maka ia telah mempermalukannya dan merusaknya.

 

 

Menegur di tempat umum, apalagi lewat media sosial, lebih banyak melukai harga diri dibanding memperbaiki kesalahan. Maka, japri (nasihat pribadi) adalah adab yang sangat dianjurkan dalam Islam.

 

Suatu hari, seorang penuntut ilmu datang kepada Imam Malik rahimahullah dan bertanya tentang suatu permasalahan. Imam Malik menjawab, namun murid itu malah membantahnya dengan nada keras di hadapan orang banyak.

 

Imam Malik menatapnya dan berkata dengan tenang; ’’Ilmu bukan hanya soal lisan, tapi tentang akhlak. Jika kamu ingin mendapat manfaat dari ilmu, pelajarilah adabnya.’’

Murid itu pun menangis dan meminta maaf.

(jif/naz)

Editor : Anggi Fridianto
#polres jombang #Binrohtal