Radarjombang.id – Pembangunan jembatan Gedung Kesenian Jombang yang menelan anggaran sekitar Rp 1,8 miliar mulai dikebut.
Sayang, pekerjaan mengalami kendala lantaran harus mengubah perencanaan proyek akibat kondisi tanah yang berbeda dari hasil survei awal.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jombang Bayu Pancoroadi melalui Kepala Bidang Tata Bangunan dan Bina Konstruksi Edy Yulianto membenarkan adanya perubahan teknis pada desain fondasi.
”Saat ini progresnya masih pada tahap persiapan penggalian. Dari rencana awal, tanah di lokasi dianggap strauss, tetapi setelah digali ternyata berupa pasir. Jadi perlu ada perubahan perencanaan pada bagian pondasi,” jelas Edy.
Proyek dikerjakan CV Hikmah Karya.
Nilai kontrak Rp 1.835.601.600 dengan masa pelaksanaan selama 90 hari kalender, dimulai sejak 25 September dan berakhir 23 Desember 2025.
Meski ada perubahan pada bagian struktur pondasi, Edy menegaskan tidak ada penambahan waktu atau addendum kontrak.
”Perubahan perencanaan tidak diikuti dengan penambahan waktu. Kami tetap targetkan proyek ini selesai tepat waktu,” tegasnya.
Edy menambahkan, proyek pembangunan tersebut mencakup dua jembatan, masing-masing dengan lebar 6 meter.
”Selain pembangunan jembatan, juga dilakukan pemasangan paving, pagar, dan scaper sebagai bagian dari penataan akses menuju area gedung kesenian,” imbuhnya.
Namun, di tengah target waktu yang ketat, kondisi lapangan yang tidak sesuai perencanaan awal menimbulkan kekhawatiran akan potensi keterlambatan.
”Kami terus melakukan koordinasi intens dengan kontraktor untuk memastikan perubahan desain pondasi tidak mengganggu progres utama pekerjaan,” kata Edy. Dinas PUPR Jombang optimistis pekerjaan dapat rampung sesuai jadwal. ”Target kami tetap, proyek harus selesai sebelum akhir kontrak,” pungkas Edy.(yan/naz)
Editor : Anggi Fridianto