Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Donor Darah Rutin Bisa Turunkan Risiko Serangan Jantung dan Stroke? Begini Penjelasan Dokter

Anggi Fridianto • Senin, 29 September 2025 | 23:08 WIB
Ilustrasi gambar donor darah (ai) (
Ilustrasi gambar donor darah (ai) (

Radarjombang.id – Donor darah tidak hanya bermanfaat untuk membantu sesama, tetapi juga memberikan dampak positif bagi kesehatan pendonor.

Hal itu diungkapkan dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit (RS) Hermina Samarinda, dr. Helsa Eldatarina.

Menurutnya, donor darah secara rutin dapat memicu produksi sel darah merah baru. Kondisi ini berkaitan dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke.

“Dengan menurunnya stres oksidatif, maka terjadi perbaikan sel endotel pada pembuluh darah yang berkorelasi langsung dengan penurunan risiko kardiovaskular, seperti serangan jantung ataupun stroke,” ujar dr. Helsa Eldatarina di Samarinda, Kalimantan Timur, Ahad (28/9/2025).

Ia menjelaskan, ketika seseorang mendonorkan darah sekitar 350 hingga 450 cc, tubuh akan kehilangan sejumlah sel darah merah dan zat besi untuk sementara waktu.

Namun, kondisi ini justru memicu tubuh segera mengganti volume plasma.

Selanjutnya, sumsum tulang mulai memproduksi sel-sel darah merah baru yang lebih segar dan produktif.

“Proses inilah yang membuat tubuh menjadi lebih sehat karena secara efektif meregenerasi sel darah yang lebih segar dan produktif untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh,” jelasnya.

Donor Darah Kurangi Stres Oksidatif

Helsa memaparkan, penurunan kadar zat besi akibat donor darah mampu mengurangi stres oksidatif. Kondisi ini adalah kerusakan jaringan yang disebabkan paparan radikal

bebas, yang dapat memicu berbagai penyakit berbahaya termasuk kerusakan pembuluh darah.

Meski demikian, donor darah juga bisa menimbulkan efek samping ringan seperti pusing, lemas, atau memar di area suntikan. Helsa menegaskan, efek ini hanya bersifat sementara dan bisa diminimalisir.

Baca Juga: Peringati Hari Bhayangkara ke-78, Polres Jombang Gelar Baksos Hingga Donor Darah

“Risiko tersebut dapat diminimalkan dengan istirahat yang cukup serta asupan cairan dan gizi yang memadai, baik sebelum maupun sesudah melakukan donor,” kata Helsa.

Interval Donor Darah yang Ideal

Terkait kekhawatiran masyarakat akan risiko penularan penyakit, Helsa memastikan semua peralatan yang digunakan dalam proses donor darah steril dan hanya dipakai sekali.

Ia juga menyarankan interval donor darah yang ideal agar tubuh tetap sehat dan prima.“Durasi yang baik adalah setiap tiga bulan bagi pria dan empat bulan bagi wanita. Perbedaan interval tersebut disebabkan karena cadangan zat besi pada wanita umumnya lebih rendah dibandingkan pria, serta adanya siklus menstruasi setiap bulan,” pungkasnya.

 

Editor : Anggi Fridianto
#Cegah #manfaat donor darah #donor darah #penyakit jantung #resiko serangan jantung #Stroke