RadarJombang.id - Pengasuh Pesantren Tahfidzul Quran Al-Hafidz, Trawasan, Sumobito, Gus M Hafidz Alhafiz, menjelaskan betapa besarnya cinta Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam kepada umatnya.
Hal itu, diungkapkannya saat khotbah di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Jumat (26/9),
’’Saking cintanya Nabi kepada umatnya, Nabi bahkan masih menyebut umatnya tatkala sakaratul maut,’’ tuturnya.
Detik-detik wafatnya Nabi Muhammad SAW, Sayidina Ali bin Abi Thalib karomallohu wajhah melihat gerakan bibir Nabi dan mendekatkan telinganya untuk mendengar.
Nabi pun mengucapkan: Umatku, umatku, umatku...
Allah Ta’ala memanggil malaikat Jibril alaihissalam untuk menanyakan kepada Nabi Muhammad SAW: Apakah engkau memilih dunia atau memilih akhirat?
Jika Nabi memilih dunia, maka Allah akan memanjangkan umurnya. Namun jika Nabi memilih akhirat, maka Allah akan memerintahkan malaikat Izrail untuk mencabut nyawanya.
Nabi Muhammad SAW memilih Allah Ta’ala dan bersabda: ’’Kehidupan yang sebenarnya adalah bukan di dunia, melainkan ketika ruhku berpindah dan berkumpul dengan Allah SWT.’’
Nabi Muhammad SAW berkata kepada malaikat Jibril: ’’Sesungguhnya aku belum puas meninggalkan umatku, jika belum ada jaminan dari Allah SWT untuk mereka.’’
Allah Ta’ala berfirman: ’’Wahai Jibril, sampaikan kepada Muhammad, dia adalah manusia pertama yang akan Aku bangkitkan pada hari kiamat, dan dia akan memimpin seluruh umat manusia.
Katakan padanya: ’’Sesungguhnya surga Aku haramkan dimasuki oleh siapa pun sebelum dimasuki oleh umat Muhammad.’’
Saat nyawanya dicabut, Nabi berkeringat dan berkata: ’’Wahai kekasihku Izrail, apakah seperti ini rasa sakit ketika nyawa dicabut?’’
Izrail menjawab; Ya Rasulullah, itu adalah sakaratul maut, itu adalah rasa sakit saat kematian.
Nabi Muhammad SAW lalu berdoa; ’’Ya Allah, ringankanlah dan mudahkanlah sakaratul maut umatku. Aku nabi mereka, aku pemimpin mereka, aku penanggung jawab mereka. Berikan seluruh rasa sakit sakaratul maut umatku kepadaku. Mereka tidak akan kuat, mereka tidak akan mampu. Biarkan semua aku yang menanggungnya.’’
Allah Ta’ala pun mengabulkan. Sehingga rasa sakit sakaratul maut yang dialami umat Nabi Muhammad tidak sesakit umat-umat terdahulu.
Tubuh Nabi Muhammad SAW semakin lemah., dan bibir beliau bergetar seolah ingin mengucapkan sesuatu.
Ali bin Abi Thalib mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah SAW, dan Nabi berbisik: ’’Jagalah salat dan peliharalah orang-orang lemah di antara kalian.’’
Tubuh mulia Nabi Muhammad SAW pun semakin lemah, ruh beliau mulai berpindah, menuju Rafiqil A'la — teman yang paling mulia, yakni Allah SWT. (jif/naz)
Editor : Achmad RW