Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Rencana Revitalisasi Kolam Retensi di Rolak 70 Masih Buram, Pemkab Jombang: Belum Ada Kepastian dari Pemerintah Pusat

Ainul Hafidz • Minggu, 24 Agustus 2025 | 18:03 WIB
Kondisi rolak 70 yang masih kurang terawat. Bangunan dam peninggalan pemerintah kolonial Belanda ini, rencananya bakal direvitalisasi dan difungsikan kembali.
Kondisi rolak 70 yang masih kurang terawat. Bangunan dam peninggalan pemerintah kolonial Belanda ini, rencananya bakal direvitalisasi dan difungsikan kembali.

RadarJombang.id – Wacana pemanfaatan area eks galian pasir di kawasan Rolak 70, Desa Bugasurkedaleman, Kecamatan Gudo, sebagai kolam retensi hingga kini masih sebatas rencana.

Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas yang sempat melempar ide tersebut belum menindaklanjutinya dalam bentuk perencanaan teknis.

Akibatnya, Pemkab Jombang juga belum mendapat informasi resmi mengenai langkah konkret program tersebut.

Kepala Dinas PUPR Jombang, Bayu Pancoroadi, melalui Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA), Sultoni, mengakui wacana pemanfaatan Rolak 70 sudah pernah dibicarakan beberapa waktu lalu. Namun hingga kini, belum ada tindak lanjut berarti.

“Rencana memfungsikan Rolak 70 itu, setahu saya, sampai sekarang belum ada perkembangan lagi. Dulu memang ada wacana, tapi sepertinya belum ditindaklanjuti dengan desain atau perencanaan detail,” ungkapnya.

Menurutnya, gagasan awal menjadikan Rolak 70 sebagai kolam retensi muncul dari kebutuhan untuk menangani kondisi Kali Konto secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.

Sebab, kawasan aliran sungai tersebut kerap menghadapi persoalan limpasan air saat debit meningkat di musim hujan.

“Ide itu sebenarnya bagus, apalagi daerah itu punya potensi. Area eks galian pasir bisa dimanfaatkan untuk menampung limpahan air, sehingga bisa mengurangi risiko banjir. Tapi sejauh ini belum ada desain teknis atau langkah konkret untuk merealisasikannya,” jelas Sultoni.

Wacana itu sendiri, lanjutnya, berasal dari BBWS Brantas yang melihat potensi Rolak 70 sebagai infrastruktur pengendali banjir.

Sayangnya, tanpa adanya dokumen resmi perencanaan, wacana tersebut tidak bisa masuk ke tahap eksekusi.

“Dulu itu semacam keinginan dari BBWS Brantas untuk memaksimalkan eks galian pasir menjadi kolam retensi atau embung. Dari sisi teknis, memang perlu kajian mendalam. Kalau memang akan dijadikan kolam retensi, tentu harus ada studi detail mengenai kapasitas tampung, dampak lingkungan, serta pengelolaan pasca pembangunan,” tambahnya.

Sementara itu, hasil pantauan di lokasi menunjukkan, aktivitas tambang pasir masih berlangsung di sekitar Rolak 70.

Mesin-mesin ponton penggeruk pasir terlihat beroperasi di area bekas galian maupun di aliran Kali Konto.

Selain dimanfaatkan untuk tambang, area tersebut juga menjadi lokasi memancing bagi warga sekitar.

Jika benar-benar direalisasikan, kolam retensi di Rolak 70 diperkirakan bisa membawa banyak manfaat.

Tidak hanya menekan risiko banjir, tapi juga berpotensi menjadi sumber air cadangan di musim kemarau.

Bahkan, jika dikelola dengan baik, kawasan itu bisa dikembangkan sebagai ruang terbuka hijau atau wisata air bagi masyarakat.

Namun, tanpa kejelasan perencanaan dari BBWS Brantas, rencana tersebut masih sebatas wacana.

Pemerintah daerah pun hanya bisa menunggu tindak lanjut dari pusat sebelum mengambil langkah lanjutan, termasuk sosialisasi kepada masyarakat sekitar. (fid/naz/riz)

Editor : Achmad RW
#revitalisasi #Jombang #buram #Rolak 70