Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Rahasia Gus Oding Warga Jombang yang Dapat Beasiswa S3 di Jerman

Anggi Fridianto • Sabtu, 16 Agustus 2025 | 13:02 WIB
Muhammad Rodlin Billah
Muhammad Rodlin Billah

Radarjombang.id - Muhammad Rodlin Billah warga asal Kabupaten Jomban telah lulus S2 di Optics and Photonics di Karlsruhe Institute of Technology, Jerman  tahun 2012.

Kini ia kembali ke Jerman untuk menempuh pendidikan S3 di jurusan dan kampus yang sama.

”Jerman terkenal dengan kualitas pendidikan tinggi, terutama di bidang teknik dan sains, yang diakui di seluruh dunia,” ungkap Alumnus Teknik Fisika ITS Surabaya tahun 2009 yang akrab disapa Gus Oding ini.

Seleksi yang dilalui untuk dapat beasiswa di Jerman juga cukup singkat.

Hanya seleksi administrasi seperti pengiriman berkas ijazah, transkip, TOEFL/IELTS, surat rekomendasi, serta surat motivasi. Kemudian tahapan selanjutnya adalah wawancara.

Selain dengan kualitas pendidikannya, menurut Oding, Jerman memiliki banyak universitas yang tidak memungut biaya SPP.

Sehingga finansial ketika tinggal di Jerman lebih ringan. Bahkan, banyak beasiswa yang diberikan tidak hanya biaya perkuliahan, tapi juga biaya hidup.

Jerman juga memiliki ekosistem riset yang kuat dan kolaborasi erat antara universitas dan industri.

”Saya melihat ini sebagai peluang besar untuk menghubungkan teori dengan aplikasi nyata di dunia kerja,” kata pria yang lahir di Denanyar 1986 tersebut.

Salah satu hal yang membuatnya kemudian mantap untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Jerman untuk mendalami sistem komunikasi serat optik, kampus di Jerman menawarkan program S2 hingga S3 dalam bidang tersebut.

Juga Atas rekomendasi salah satu dosen yang mengajar saat S1, yang merupakan alumni sebuah universitas di Jerman dalam bidang yang sama.

Banyak hal yang ia rasakan dalam perbedaan sistem pendidikan di Indonesia dan di Jerman. Di Jerman tidak ada sistem absensi saat perkuliahaan, mahasiswa bebas mau masuk atau tidak. Ujian mata kuliah bisa berbentuk tulis atau lisan.

Tidak ada ujian tulis pilihan ganda, lebih banyak berbentuk esai.

”Di sini kejujuran dijunjung tinggi. Di sini salah satu mata kuliah mendapatkan kesempatan ujian tiga kali, jika gagal di ketiga ujian tersebut berisiko drop out,” jelasnya.

Yang membuatnya senang, di Jerman perpustakaan kampus buka 24 jam, memberikan banyak akses lokasi kondusif untuk belajar serta buku-buku untuk dipinjam.

Mahasiswa dituntut untuk proaktif mencari materi, mengatur waktu, dan memutuskan sendiri cara mencapai target pembelajaran.

”Dosen lebih berperan sebagai fasilitator dan partner diskusi, bukan sumber informasi tunggal. Tidak ada acara wisuda. Tidak ada SPP atau uang gedung, hanya biaya administrasi,” ungkapnya.

Banyaknya perbedaan sistem pendidikan, membuatnya harus lebih keras menyesuaikan diri di awal perkuliahan.

Salah satu tantangannya yaitu menyesuaikan diri dengan budaya kerja dan belajar yang sangat mengutamakan kemandirian dan ketepatan waktu.

Apalagi dalam hal bahasa, Bahasa Jerman juga menjadi tantangan di awal, terutama di luar kampus. Menguasai bahasa Jerman bukan hanya soal komunikasi, tetapi juga kunci untuk benar-benar memahami budaya dan cara berpikir warga lokal.

”Yang paling berat, orang tua, yang biasanya mengingatkan kita secara kontinyu, tidak ada disamping kita,” ungkap putra pasangan Zainal Abidin dan Masriatin tersebut.

Menurutnya, Jerman tetap memberikan kesan yang luar biasa dalam perjalanan intelektualnya.

Salah satunya melihat hasil riset disertasinya yang digunakan langsung oleh industri untuk memecahkan masalah nyata.

”Momen itu memberi rasa puas dan membuktikan bahwa kerja keras di laboratorium tidak hanya berhenti di jurnal atau konferensi, tetapi benar-benar memberi dampak,” jelasnya.

Selama kuliah Oding juga bekerja penuh waktu di Vanguard Automation GmbH, sebuah startup yang mengembangkan teknologi dan peralatan manufaktur berbasis perangkat lunak untuk integrasi fotonik.

Juga terlibat dalam berbagai organisasi keagamaan, mahasiswa, budaya, dan profesional untuk mengembangkan keterampilan lunaknya dan memberdayakan lingkungannya.

Ia juga pernah meraih sejumlah penghargaan internasional, pemenang kedua Berthold Leibinger Innovationspreis, Berthold Leibinger Stiftung, Jerman 2018, kategori special prize pada Neuland The Innovation Award, Karlsruhe Institute of Technology, Jerman 2017.

Honorable mention dalam Kompetisi Makalah Mahasiswa Maiman, Konferensi Laser dan Elektro-Optik (CLEO), Amerika Serikat 2015.

Pada Februari 2013 sampai Januari 2014, ia meraih beasiswa tahun pertama program doktoral dari Helmholtz International Research School of Teratronics, Karlsruhe Institute of Technology, Jerman.

Oktober 2010 sampai September 2012 beasiswa untuk program S2 dari Karlsruhe School of Optics and Photonics, Karlsruhe Institute of Technology, Jerman. Program pertukaran pemuda Indonesia–Kanada, terpilih mewakili Provinsi Jawa Timur, didanai oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia dan Canada World Youth 2008. Program Pertukaran Mahasiswa ke Universitas Malaya, Malaysia, terpilih mewakili Institut Teknologi Sepuluh Nopember, didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi Republik Indonesia 2007. (wen/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#di jerman #Warga Jombang #berita jombang #Kuliah