RadarJombang.id - Masih banyaknya petani di Jombang yang menjual gabah ke tengkulak hingga berujung tak mendapat harga sesuai HPP direspons Perkumpulan Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Jombang.
Ketua Perpadi Jombang M Soleh mengatakan, pihaknya sudah turun langsung menyerap atau membeli gabah ke petani.
”Jadi anggota kami turun langsung menyerap gabah petani, menyelamatkan harga dari tengkulak. Karena gabah yang kami serap Rp 6.500 per kilogram,” kata Soleh kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Pihaknya bekerja sama dengan Bulog melakukan penyerapan gabah langsung ke tingkat paling bawah.
”Jangan sampai harga gabah di Jombang hancur, kasihan petani,” imbuh dia.
Perpadi Jombang memiliki 35 anggota penggilingan padi. Hanya saja, tak semua bisa menyerap langsung ke petani.
”Sekitar tujuh anggota kami yang siap menyerap. Untuk lainnya belum bisa, karena tidak punya tempat pengeringan,” tutur Soleh.
Pihaknya menyerap gabah antara 300-400 ton per hari. Gabah tersebut selain diserap langsung dari petani juga dari sejumlah tengkulak.
”Sampai sekarang kami punya 60 ton gabah dengan kualitas jelek,” ujar dia.
Diakui, para petani menjual langsung ke tengkulak karena berbagai hal. Di antaranya, tak terlalu ribet.
”Tengkulak pun kadang tidak langsung membeli gabah, karena alasan padinya roboh dan kena penyakit,” tutur Soleh.
Kendati demikian, harga yang ditetapkan pemerintah dinilai sudah menguntungkan petani.
”Dengan harga Rp 6.500 per kilogram ini petani saya rasa sudah dimulyakan. Harga Rp 6.000 per kilogram saja sudah untung, apalagi ini lebih," imbuhnya
Menurutnya, hal itu arena rata-rata biaya pengeluaran banon 100 (sawah dengan luas sekira 1.400 meter persegi) masih akan untung jika dibeli di harga itu.
"Kalau peraturnya itu antara Rp 3 juta sampai Rp 3,5 juta, dengan Rp 6.500 perkilogram sudah untung,” kata Soleh.
Sebelumnya, Dimas Sandi Muslimin salah seorang petani di Dusun Banjaranyar, Tinggar, Bandarkedungmulyo Jombang mengatakan, panen padi di wilayahnya sudah mulai sejak Ramadan lalu.
”Awal puasa (Ramadan) itu masih Rp 6.500 per kilogram, lalu turun jadi Rp 6.100 per kilogram. Seminggu sebelum hari raya (Idul Fitri) Rp 5.700 per kilogram,” kata Dimas.
Dimasn menambahkan, gabah hasil panennya dijual ke tengkulak dihargai Rp 5.700 per kilogramnya.
Harga tersebut belum termasuk untuk sewa mesin combine, karena ditanggung petani.
”Tengkulak tahunya gabah sudah dalam sak, petani modal mesinnya saja. Biaya angkut ikut sana (tengkulak),” imbuh dia.
Bukan panen kali ini saja, panen sebelumnya dia juga menjual gabahnya ke tengkulak.
”Karena tengkulaknya ini langsung datang sendiri, kami juga butuh modal buat biaya tanam lagi,” tutur pria berusia 27 tahun ini.
Ironisnya lagi, beberapa gabah petani bahkan gabahnya dibeli dengan harga mulai Rp 5.500 per kg bahkan ada yang hanya dibeli Rp 5.000 per kg.
”Gabah saya kemarin hanya dihargai Rp 5.000 per kilogram. Saya jual ke tengkulak. Baru dua hari kemarin panennya," ungkap Sokib, petani Desa Sumberjo Jombang.
Itu pun pihaknya masih harus keluar biaya untuk panen dan angkut sebesar Rp 2 juta, belum lagi memberi makan, rokok dan lain-lain. "Sangat merugikan sekali,” pungkasnya. (fid/naz/riz)
Editor : Achmad RW