RadarJombang.id - Indonesia merupakan negara dengan penduduk terbanyak ke-4 di dunia dan juga merupakan penyumbang sampah plastik terbesar ke-2 di dunia.
Berdasarkan data ADUPI (Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia) 2021, angka sampah yang cukup besar itu ternyata hanya memenuhi 44 persen kebutuhan akan resin PET di Indonesia.
Dimana kebutuhannya diperkirakan mencapai 31.500 ton per bulan.
“Inovasi produk berbasis PET terus berkembang, pararel dengan hal tersebut, angka kebutuhan industri terhadap material PET ini juga terus bertambah. Apalagi PET berpotensi untuk menggantikan jenis material lain dan membuat harga produk menjadi lebih terjangkau,” kata Factory Manager PT Bumi Indus Padma Jaya (BIPJ) Januar Pribadi.
PT BIPJ di Jombang menjadi pionir pabrik daur ulang berteknologi food grade Indonesia.
Industri daur ulang plastik di Indonesia memang terus menunjukkan kemajuan yang impresif dan didukung oleh kebutuhan dalam negeri serta tersedianya post-consumer (sampah domestik) dan post-industrial.
Karena itu, untuk meningkatkan penyediaan sumber bahan baku Recycled PET (R-PET) dalam negeri dan sekaligus sebagai komitmen Mayora Group dalam menjalankan Gerakan Ekonomi Sirkular, didirikanlah PT Bumi Indus Padma Jaya (BIPJ), pabrik daur ulang plastik khusus PET yang telah memenuhi standar keamanan pangan (food grade).
“Belum banyak pabrik daur ulang PET yang mengadaptasi teknologi food grade di Indonesia, karena itu kami hadir menciptakan sumber bahan baku yang memenuhi kebutuhan industri dalam negeri akan bahan baku recycled resin PET food grade terbaik yang sesuai dengan standar keamanan kemasan pangan," jelas Januar lagi.
BIPJ menggunakan teknologi pengolahan PET yang modern.
Ada dua proses utama dalam pengelohan botol plastik PET menjadi plastik resin berstandar keamanan pangan.
Pertama yakni jalur pencucian yang dimulai dengan proses pembukaan tutup dan pencopotan label. Lalu botol PET bekas tersebut disortir sesuai dengan warna dan jenisnya.
Baca Juga: Kenali 7 Jenis Plastik Ini Sebelum Memilih untuk Daur Ulang dan Jadi Jago Pilah Sampah
Baru setelah itu proses pencacahan menjadi serpihan untuk kemudian pencucian dan pengeringan.
Kedua, yakni proses diextrusi, perubahan plastik dari bentuk padat menjadi cair. Lalu, proses dekontaminasi dan yang terakhir proses pencetakan pellet plastik.
Pellet plastik inilah yang dapat diolah kembali untuk menghasilkan produk plastik baru.
Januar menyampaikan, pembangunan pabrik ini merupakan komitmen Mayora Group untuk melengkapi Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional Le Minerale (GESN Le Minerale) yang telah digaungkan sejak 2022 yang lalu.
"Sebagai perusahaan lokal, kami berkomitmen untuk berkontribusi nyata bagi Indonesia, termasuk dalam pengelolaan sampah. BIPJ akan menjadi hilir dari GESN Le Minerale, sementara edukasi pilah sampah dari rumah serta kegiatan yang mendukung peningkatan collection rate yang menjadi hulu dalam Gerakan ini, akan terus digaungkan ke masyarakat,” ceritanya.
Kehadiran BIPJ juga diharapkan akan membawa dampak lingkungan dan ekonomi.
Dampak lingkungan yakni terhadap Indonesia yang lebih bersih.
PET sendiri memiliki tingkat daur ulang tertinggi, sehingga bila bekas kemasan plastik PET dapat terkelola dan didaurulang, maka tidak menjadi timbulan sampah di ekosistem.
Sedangkan dari sisi ekonomi, tentunya adanya penyerapan tenaga kerja akan berkontribusi terhadap perekonomian wilayah setempat pada khususnya.
Fasilitas ini menyerap lebih dari 150 orang tenaga kerja lokal dan didukung teknologi modern.
Pembangunan pabrik daur ulang BIPJ telah dimulai sejak 2022, yang saat ini memiliki kapasitas produksi 22.000 ton per tahun Recycled PET Plastic (RPET) yang telah memenuhi standar keamanan pangan terbaik (food grade).
Dipaparkan, 50 persen hasil pengolahan dari pabrik ini diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan separuhnya lagi untuk keperluan ekspor.
Dengan industri daur ulang yang berorientasi ekspor, tentunya akan berkonrtribusi menghasilkan devisa negara. (riz)
Editor : Ainul Hafidz