RadarJombang.id - Kasus perselingkuhan belakangan ini menjadi sorotan di Indonesia. Beberapa kasus melibatkan tokoh publik telah menarik perhatian dan perdebatan panjang.
Selingkuh didefinisikan sebagai wujud ketidakmampuan seseorang untuk setia pada komitmen dalam hubungan.
Di tengah sorotan tersebut, muncul pertanyaan benarkah ada hubungan antara kecerdasan seseorang dan kecenderungan untuk berselingkuh?
Beberapa penelitian menemukan bahwa kecerdasan bukan hanya soal kognitif, tetapi juga kemampuan untuk mengendalikan emosi dan perilaku.
Orang dengan kecerdasan emosional tinggi cenderung lebih baik dalam mengelola hubungan, termasuk menghindari perilaku berisiko seperti perselingkuhan.
Tetapi, penelitian lain juga menunjukkan bahwa kecerdasan kognitif tidak selalu membuat seseorang lebih setia.
Hal itu, terungkap dalam sebuah penelitian yang diterbitkan jurnal Social Psychology Quarterly pada 2010.
Satoshi Kanazawa, seorang psikolog evolusioner dari London School of Economics and Political Science, berpendapat bahwa kemungkinan seorang pria berselingkuh dengan pasangannya berkurang jika dia lebih cerdas.
Pernyataan bahwa pria sulit menjalani hubungan monogami sepanjang sejarah evolusi adalah dasar teorinya.
Oleh karena itu, pria yang tidak dapat beradaptasi dan akhirnya menyerah pada keinginan dan berakhir selingkuh cenderung memiliki kecerdasan kurang.
Namun, penelitian Kanazawa tidak menunjukkan bahwa pria yang cerdas tidak melakukan perselingkuhan.
Kanazawa menemukan bahwa pria yang cerdas lebih cenderung terlibat dalam hubungan di luar nikah.
Daniela Schreier, seorang psikolog klinis dan asisten profesor di Chicago School of Professional Psychology, mengatakan bahwa gagasan pria kurang cerdas lebih cenderung selingkuh tidak terlalu mengejutkan.
Pria yang kurang cerdas juga cenderung tidak terlalu khawatir tentang selingkuh dan lebih mampu menghilangkan rasa bersalah. Dia mengatakan, "Jika Anda bukan pemikir yang rumit, lakukan saja dan lanjutkan."
Namun, Schreier beranggapan penelitian ini terlalu menggeneralisasi, "Lihatlah orang yang sangat cerdas telah berselingkuh dari istri mereka."
Ini mungkin ada hubungannya dengan fakta bahwa pria yang sangat cerdas lebih jarang tertangkap.
Marty Babits, seorang pekerja sosial klinis dan penulis buku "The Power of the Middle Ground: A Couple's Guide to Renewing Your Relations", menyatakan bahwa hasil penelitian masih dapat diragukan lagi.
Dia menyatakan bahwa jenis faktor yang mendorong orang untuk menilai suatu hubungan berasal dari masalah psikologis yang umumnya tidak terkait dengan kecerdasan.
Mereka lebih terkait dengan masalah kepercayaan. Ini masalah yang terlalu kompleks untuk direduksi hanya sebagai faktor kecerdasan.
Menurut Michèle Binswanger, seorang jurnalis Swiss dan penulis buku Cheating: A Handbook for Women, wanita biasanya melakukan perselingkuhan karena alasan emosional.
Sebaliknya, motivasi utama pria selingkuh untuk menemukan seseorang yang lebih menarik dari pasangannya.
Pria juga selingkuh karena merasa tidak cukup berhubungan seksual dalam hubungannya.
"Bagi pria, ini sering kali soal kesempatan. Jika mereka mendapat kesempatan yang sempurna dan risiko ketahuan sangat kecil, mereka mungkin lebih cenderung berselingkuh," lanjut Binswanger.
Pada akhirnya, kecerdasan mungkin membantu mempertahankan hubungan, tetapi keputusan dan pilihan pribadi masih menjadi faktor utama.
Baca Juga: Gila! Pegawai Honorer di Pemkab Jombang Disebut Terlibat Poliandri dengan Dua Lelaki Lulusan IPDN
Ketika Anda memilih berselingkuh, Anda bukan hanya menghancurkan hubungan, tapi juga menghancurkan kepercayaan yang mungkin tak akan bisa diperbaiki dan menunjukkan bahwa kejujuran dan kasih sayang sejati tak pernah benar-benar ada dalam diri Anda.
(Marcella Diva Anggraini)
Editor : Achmad RW