RadarJombang.id - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai jadi sorotan meski baru beberapa hari selesai dilantik jadi menteri dalam kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto.
Natalius Pigai, jadi sorotan karena keluhannya atas anggaran Kementrian HAM yang sebesar Rp 64 miliar dinilai cukup kecil dan tak cukup untuk menuntaskan program kerja Prabowo.
Ia, bahkan menyebut paling tidak membutuhkan anggaran hingga Rp 20 triliun untuk kebutuhan kementriannya itu.
Pigai meminta tim transisi Kementerian Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan untuk merombak anggaran tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Pigai saat memberikan sambutan dalam acara Penyambutan Kementerian Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan di Graha Pengayoman, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (21/10).
Pigai menegaskan, pembentukan Kementerian HAM oleh Presiden Prabowo mempunyai tujuan besar terhadap isu-isu HAM.
"Kenapa presiden mau bikin Kementerian HAM, beraeti ada sesuatu besar yang mau dibikin. Maka tim transisi rombak itu anggaran," kata Pigai saat menyampaikan sambutan dikutip dari Jawapos.com.
Karena itu, ia merasa anggaran Rp 64 miliar yang sudah disiapkan dinilai kurang untuk mengakomodir kepentingan Kementerian HAM itu.
"Rombak itu, dari Rp 20 triliun cuma Rp 64 miliar, nggak bisa, tidak tersampaikan kinerja visi misi Presiden RI Prabowo Subianto," lontarnya.
Berdasarkan data tim transisi Kemenko Bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan, Kementerian HAM memang pagu anggarannya terkecil sejumlah Rp 64 miliar.
Sementara, Kementerian Hukum senilai Rp 7,2 triliun.
Sedangkan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan sejumlah Rp 13,3 triliun.
Mantan Komisioner Komnas HAM itu menyatakan, dirinya mempunyai kedekatan dengan Presiden Prabowo. Sebab, telah lama berjuang dijalur politik bersama Prabowo.
"Saya prajurit presiden tanpa kementerian HAM pun saya bisa dapat menteri lagi," lontarnya.
Bahkan, aktivis HAM itu pun mengaku sudah mengenal Prabowo selama 30 tahun, sejak masih aktif di militer.
"Saya 20 tahun ikut dengan presiden dalam perjuangan politik, 30 tahun saya mengenal presiden, bagi saya tidak ada hubungan," pungkas Pigai. (jpc/riz)
Editor : Achmad RW