RadarJombang.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan tujuh provinsi di Indonesia mengalami kekeringan ekstrem karena tidak ada hujan selama lebih dari dua bulan.
Dilansir dari ANTARA, situs BMKG Rabu (18/9) menginformasikan terdapat 38 daerah di tujuh provinsi di Indonesia yang telah mengalami kekeringan ekstrem.
Seperti beberapa daerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur meliputi Kota Kupang dengan 144 hari hari tanpa hujan, Sumba Timur dengan 141 hari tanpa hujan, Sabu Raijua 28 hari tanpa hujan, Kupang 116 hari tanpa hujan, Lembata 97 hari tanpa hujan, Timor Tengah Selatan 97 hari tanpa hujan, Sikka 72 hari tanpa hujan, Rote Ndao 70 hari tanpa hujan, Sumba Barat Daya 69 hari tanpa hujan, dan Ende 69 hari tanpa hujan.
Kondisi serupa juga menimpa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Barat, dan Provinsi Banten.
Merespons itu, Manager Kampanye Infrastruktur dan Tata Ruang WALHI Eksekutif Nasional Dwi Sawung mengatakan sumur resapan muncul sebagai salah satu solusi efektif.
Sumur resapan, bisa jadi solusi menjaga ketersediaan air dalam menghadapi musim kemarau yang semakin ekstrem.
Penggunaan sumur resapan perlu diutamakan berdasarkan prioritas, dimulai dari kebutuhan pokok seperti air untuk konsumsi, diikuti kebutuhan ternak dan tanaman pangan.
“Sumur resapan sangat besar perannya ketika musim penghujan dan musim kemarau, menjaga neraca air seimbang, ini juga mesti dibarengi dengan menjaga RTH yang cukup di lingkungan sekitar,” kata Dwi dikutip dari Antara, Kamis (19/9).
Ia menambahkan penting juga untuk memastikan semua sistem pipa dan tempat penyimpanan air tidak mengalami kebocoran, agar tidak ada air yang terbuang sia-sia.
Selain itu, menjaga ruang terbuka hijau (RTH) di sekitar juga sangat mendukung fungsi sumur resapan.
Keefektifan sumur resapan bergantung pada kondisi geologi daerah dan tingkat penggunaan air tanah.
Baca Juga: Krisis Air Bersih Meluas, Ini Tambahan Dusun di Jombang yang Terdampak Kekeringan
Misalnya di daerah dengan penggunaan air yang masif dan tanah yang kurang mampu menyimpan air, manfaat sumur resapan mungkin berkurang.
Di sisi lain, sumur resapan juga dirasa memiliki banyak dampak, baik jangka panjang maupun pendek.
“Manfaat jangka panjangnya mengendalikan banjir dipermukaan dan penurunan muka air tanah dalam jangka panjang,” ungkapnya.
Dengan memanfaatkan sumur resapan secara optimal, masyarakat diharapkan dapat lebih siap menghadapi tantangan kemarau dan menjaga keberlanjutan sumber daya air.
Dengan langkah-langkah yang tepat, sumur resapan dapat menjadi bagian penting dalam strategi pengelolaan air di masa depan. (riz)
Editor : Achmad RW