Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Renungan Minggu 204, Pentingnya Buka Hati dan Miliki Kepekaan

Rojiful Mamduh • Minggu, 11 Agustus 2024 | 19:28 WIB
Pdt Petrus Harianto, Sth, Pendeta GPdI House Of Prayer Sawahan
Pdt Petrus Harianto, Sth, Pendeta GPdI House Of Prayer Sawahan

RadarJombang.id - Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik tentang pentingnya membuka hati dan memiliki kepekaan.

’’Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar,’’ tuturnya mengutip 1 Samuel 3:10.

Dengan mudahnya sekarang kita menghubungi seseorang kapan pun dan dimana pun, sekalipun berada di tempat yang berjauhan.

Telepon genggam sangat bermanfaat dan memudahkan kita berkomunikasi.

Namun ironisnya, alat komunikasi ini juga bisa membuat pasangan bertengkar karena salah paham.

Ada seorang istri marah dan jengkel, karena gagal menghubungi suaminya yang berada di luar kota. Padahal suaminya membawa dua telepon genggam.

Tetapi ketika dihubungi, keduanya tidak diangkat-angkat. Spontan si istri marah dan berpikir negatif, jangan-jangan suaminya sedang selingkuh.

Namun ternyata tidak demikian. Hari itu waktu pagi sampai siang suaminya rapat, dan telepon genggam sang suami dipasang pada posisi silent.

Ia lupa mengembalikannya ke posisi normal selesai rapat sehingga tidak bisa mendengar bunyi telepon masuk!

Ilustrasi di atas mengingatkan kita pada peristiwa yang pernah dialami oleh Imam Eli.

Sesungguhnya Allah selalu ingin menghubungi kita, tetapi terkadang hati kita berada pada posisi silent.

Baca Juga: Renungan Minggu 201, Belajar Memahami Pikiran Allah  

Tidak merespons ketika mendengar suara-Nya. Itulah yang dialami Eli. Karena membiarkan dosa anak-anaknya, ia kehilangan daya dengar rohaninya.

Akibatnya "pada masa itu firman Tuhan jarang" (1 Samuel 3:1). Lalu Tuhan beralih menghubungi seorang muda yang hatinya bersih. Namanya Samuel.

Tiga kali Tuhan memanggil namanya. Mula-mula tidak terjadi komunikasi karena Samuel diam saja.

Tuhan baru berbicara setelah Samuel memberi respons, ’’Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar’’ (ayat 10).

Jadi untuk berkomunikasi dengan Tuhan, kita perlu peka. Menyatakan diri sedia untuk mendengar-Nya.

Tuhan selalu ingin berbicara kepada kita lewat firman-Nya, termasuk saat kita bersaat teduh atau pun ibadah. Selalu  ada pesan yang Tuhan ingin sampaikan.

Namun dapatkah kita dihubungi? Ketika Tuhan berbicara atau menegur, apakah kita peka dan segera merespons?

Ataukah hati kita sudah menjadi tumpul dan telinga kita tertutup karena dosa? Atau terlalu sibuk, sehingga selalu berkata nanti saja?

Apabila kita sudah lama merasa Tuhan tidak berbicara, periksalah, jangan-jangan hati kita sedang berada dalam posisi silent.

’’Bukalah hatimu dan miliki kepekaan terhadap suara Tuhan melalui firmanNya. Tuhan Yesus memberkati,’’ tegasnya. (jif/naz/riz)

 

Editor : Achmad RW
#GPdI House of Prayer Sawahan #kepekaan #buka hati #Petrus Harianto STh #Renungan Minggu