Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

117.360 Penduduk Jombang Masih Hidup di Bawah Garis Kemiskinan, Ini Penyebabnya

Anggi Fridianto • Kamis, 11 Juli 2024 | 14:10 WIB
Ilustrasi kemiskinan ekstrem
Ilustrasi kemiskinan ekstrem

RadarJombang.id – Jumlah angka kemiskinan di Kabupaten Jombang masih tinggi.

Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS) Jombang, tercatat sebanyak 117.360 penduduk di Jombang pada 2023 hidup di bawah garis kemiskinan.

Angka kemiskinan ini menunjukkan terjadi kenaikan dibandingkan jumlah penduduk miskin pada 2022 yang hanya sebanyak 115.480 jiwa.

Hal itu, diungkap Statistik Muda BPS Jombang Reni Puspitasari.

Berdasarkan survei sosial ekonomi nasional (Susenas) yang dilakukannya pada Maret, diketahui angka penduduk miskin di Kabupaten Jombang pada 2023 terjadi kenaikan cukup signifikan.

”Yang bisa kita sampaikan adalah jumlah penduduk miskin di Kabupaten Jombang tahun 2023 sebanyak 117.360 jiwa,” katanya ditemui Jawa Pos Radar Jombang, Senin (8/7).

Saat ditanya jumlah penduduk miskin di Jombang pada 2024, Reni menyebut menunggu laporan Susenas 2024 yang saat ini masih dalam penyusunan.

”Kalau untuk 2024, belum kita sampaikan sekarang. Insya Allah akhir tahun nanti bisa kita sampaikan karena sekarang masih dalam proses penyusunan,” ujar dia.

Dari hasil Susenas, garis kemiskinan di Jombang pada Maret 2023 sebesar Rp 488.754,00 per kapita per bulan.

Angka meningkat sebesar 8,9 persen atau sekitar Rp 39.924,00 per kapita per bulan bila dibandingkan garis kemiskinan bulan Maret 2022, yakni sebesar Rp 448.830,00.

”Jika dipersentasekan penduduk miskin di Jombang mengalami kenaikan dari 9,04 persen pada 2022 menjadi 9,15 persen pada Maret 2023,” tambahnya.

Baca Juga: Pemkab Jombang Anggarkan Rp 23 Miliar Untuk Penanggulangan Kemiskinan, Apa Programnya?

Dijelaskan, untuk mengetahui angka kemiskinan tersebut, pihaknya melakukan survei kepada masyarakat dengan menanyakan kebutuhan dasar dalam sebulan.

”Kita mendata berdasarkan basic needs approach atau pendekatan kebutuhan dasar untuk menentukan miskin atau tidak," ungkapnya.

"Jadi, warga kita tanyakan selama seminggu terakhir menghabiskan biaya berapa untuk belanja beras dan bahan-bahan yang dikonsumsi,” terangnya.

Pihaknya tak hanya menanyakan kebutuhan dasar, kebutuhan lain juga ditanya secara detail dan terperinci.

Dari jumlah pengeluaran itu kemudian ditotal sesuai pengeluaran per kapita (per orang) per bulan.

”Kita juga menanyakan kebutuhan yang dibeli untuk nonmakanan,” papar dia.

Ia menegaskan, angka kemiskinan di Jombang pada 2023 memang mengalami kenaikan.

Dijelaskan, ada beberapa faktor yang membuat angka kemiskinan naik.

Di antaranya harga kebutuhan pokok seperti beras, BBM dan bahan lainnya yang melonjak pada 2023.

”Memang pada 2023 kan ada kenaikan inflasi, yang disebabkan harga kebutuhan pokok naik. Sehingga itu membuat angka kemiskinan ikut naik,” pungkasnya. (ang/naz/riz)

 

Editor : Achmad RW
#masyarakat #penduduk #Jombang #kemiskinan