RadarJombang.id - Dam Karet Jatimlerek di Sungai Brantas Jombang yang jebol memang berdampak langsung pada petani.
Tak tanggung-tanggung, ada 7 desa di Kecamatan Plandaan dan Ploso Jombang yang akan merasakan akibatnya.
Bahkan, diprediksi ada puluhan hektare sawah yang mengandalkan irigasi brantas bakal nganggur tak bisa ditanami.
“Ada lima desa di Kecamatan Plandaan dan dua desa di Kecamatan Ploso yang memang selama ini menggantungkan pengairan pertanian dari irigasi Brantas,” Kepapa Desa Purisemanding, Nurbata.
Selain Desa Purisemanding, Kecamatan Plandaan yang terdampak berada di Desa Jatimlerek, Gebangbunder, Plandaan dan Desa Karangmojo.
“Kalau dua desa di Kecamatan Ploso itu Tanggungkramat dan Rejoagung, seluruhnya merasakan dampak langsung,” lontarnya.
Dampak nyata dari jebolnya dam karet Jatimlerek, menurutnya adalah ketiadaan pasokan air pada lahan pertanian.
Padahal, tercatat lebih dari 60 hektare sawah bergantung pada pengairan irigasi dari Sungai Brantas.
“Di sini ini 60 hektare lebih yang mengandalkan irigasi atau sawah teknis, sisanya memang sawah tadah hujan,” tambah Nurbata.
Hal ini juga memicu keresahan petani karena sawah teknis butuh air musim tanam kedua.
Baca Juga: Perahu Tambang Brantas Hanyut Hingga Terjun di Bawah Dam Karet Jatimlerek
“Kalau tadah hujan memang setelah padi di MT 1 biasanya tanam palawija atau tembakau,” jelas dia.
Ia dan sejumlah kepala desa, sudah mendatangi langsung UPT pengairan Mrican Kediri yang menaungi Dam Karet Jatimlerek.
"Namun hasilnya juga belum bisa memastikan kapan perbaikan karena debit air masih tinggi," tambahnya.
Untuk itu pihaknya berharap perbaikan dapat segera dilakukan agar petani bisa melakukan musim tanam selanjutnya.
“Kalau tetap tidak diperbaiki yan nanti mungkin ganti tanam palawija, karena kalau pakai diesel juga sulit, biayanya akan membengkak,” pungkasnya. (riz/bin/riz)
Editor : Achmad RW