Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Pemkab Mau Bikin Rekor MURI Jaranan Dor, Praktisi Pendidikan: Itu Kegiatan Seremonial Tanpa Efektivitas yang Jelas

Wenny Rosalina • Kamis, 2 Mei 2024 | 13:40 WIB
Ilustrasi properti jaranan yang akan digunakan siswa di Jombang untuk Rekor MURI Jaranan Dor
Ilustrasi properti jaranan yang akan digunakan siswa di Jombang untuk Rekor MURI Jaranan Dor

RadarJombang.id - Sorotan berkaitan dengan upaya Pemkab Jombang berburu Rekor MURI Jaranan Dor terus datang.

Salah satu praktisi pendidikan Akhmad Zainuddin turut angkat bicara terkait rencana Pemkab Jombang berburu rekor MURI jaranan dor itu.

Menurutnya, meningkatkan mutu pendidikan masih lebih penting dibandingkan dengan event MURI yang tidak jelas peruntukannya.

”Harusnya dikurangilah kegiatan model-model seremonial yang efektifitasnya perlu dipertanyakan kembali,” ucapnya, kemarin (1/5).

Menurutnya, rekor MURI jaran dor tidak memiliki substansi yang jelas untuk siswa.

Jika alasannya untuk memberikan wawasan pengetahuan tentang kebudayaan, bisa dilakukan dengan cara lain yang lebih efektif.

”Kalau untuk pengenalan budaya, itu budaya yang bagaimana,” tanya dia.

Jika berniat mengenalkan budaya Jombang kepada siswa, ia memberi contoh dilakukan melalui kebiasaan sehari-hari.

Hal ini justru akan sendirinya tradisi menjadi lestari tanpa ada event MURI yang memerlukan biaya besar.

”Budaya itu pembiasaan, bukan sekadar seremonial, sehingga akan menancap di bawah alam sadar hingga tradisi jadi lestari,” ungkapnya.

Ia menyebut, MURI jaran dor hanya akan membebani siswa, orang tua, termasuk membebani sekolah.

Baca Juga: Pemkab Jombang Berburu Rekor MURI Lewat Jaranan Dor, Pengamat: Itu Kebijakan yang Menggelikan

Di mana mereka yang tidak bisa  protes, maka akan mengikuti kegiatan dengan keterpaksaan.

”Kalau tujuannya melestarikan budaya, memang baik tujuannya, tapi caranya yang perlu dipikir ulang,” jelas Guk Din panggilan akrabnya.

Apalagi properti jaranan, baik membeli maupun membuat sendiri, setelah event selesai, tetap tidak digunakan lagi.

Belum lagi dampak siswa yang tidak memiliki jaranan yang kualitasnya berbeda dengan teman-teman lainnya.

”Kalau sudah selesai, properti itu mau dikemanakan, padahal masih banyak kebutuhan lain yang lebih penting,” ungkapnya.

Menurut Guk Din, Dinas P dan K Jombang lebih baik fokus pada peningkatan mutu dan kualitas pendidikan.

Sebab, melestarikan budaya tidak bisa dilakukan dengan cara yang instan.

Menurutnya, apakah ada jaminannya setelah MURI anak-anak akan mengenal budayanya  sebagai bagian dari kehidupan?

"Seperti MURI-MURI sebelumnya, apakah sudah jadi pembiasaan, itu perlu dipertanyakan ulang,” pungkas Ketua PKBM Yalatif Jombang ini. (wen/bin/riz)

Editor : Achmad RW
#Jombang #Rekor MURI #sorotan #praktisi pendidikan #jaranan dor