RadarJombang.id – Sebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Jombang masih harus diwaspadai.
Meski tren menurun, namun sepanjang tahun ini tercatat ada 146 kasus positif DBD di Jombang yang diakibatkan gigitan nyamuk Aedes Aegypti.
Setiap warga di Jombang juga diimbau unuk melakukan upaya preventif sendiri di rumah guna mencegah penularan DBD.
”Berdasarkan data komulatif sejak Januari sampai 6 Maret, memang ada sekitar 146 kasus murni DBD," ujar Plt Kepala Dinkes Jombang Syaiful Anwar, kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin (9/3).
Dari jumlah itu, total ada 9 pasien yang meninggal dunia.
Jumlah pasien yang meninggal itu tidak bertambah alias tetap sejak kasus meninggal akhir Februari lalu.
”Ya 9 orang, yang mayoritas usia anak-anak. Alhamdulillah sudah tidak ada (korban meninggal) lagi," tambahnya.
Dalam analisanya, tidak ada kasus meninggal akibat DBD ini dipengaruhi tren kasus DBD yang mulai terkendali.
Baik secara penanganan pasien maupun upaya preventif yang dilakukan semua unsur masyarakat.
"Tren kasusnya menurun, malah dua hari kemarin tidak ada laporan kasus baru DBD. Hari ini juga gak ada laporan kasus baru," terang dia.
Ia menegaskan, kasus DBD yang masih ada di Jombang kota, merupakan inveksi kasus DBD sebelumnya.
Baca Juga: Waspada Serangan DBD, Direktur RSUD Jombang Ungkap Bnyaknya Penyintas yang Terserang Kembali
Kasus aktif DBD dalam posisi inveksi yang lama. Inveksi beberapa hari yang lalu.
“Kalau dua hari kemarin nggak ada inveksi," pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, tren kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes Aegypti di Jombang diklaim menurun, Jumat (8/3).
Meski demikian, masih ada 23 anak yang menjalani perawatan di RSUD Jombang.
Disamping ada enam orang dewasa yang juga dirawat karena DBD. (ang/bin/riz)
Editor : Achmad RW