Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kiamat (3)

Achmad RW • Jumat, 16 Februari 2024 - 14:19 WIB
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.

Wa ma adrak ma al-qari’ah. Yawm yakun al-nas ka al-farasy al-mabtsuts.

Menyambung hikmah dari idiom ’’wa ma adrak’’ yang kemudian dijelaskan sendiri oleh Tuhan.

Selain berfaedah agar tidak mempersulit obyek yang ditanya, hal itu memberi pelajaran kepada kita.

Utamanya para guru dan para pendidik agar dalam menyampaikan pelajaran itu jelas, gampang dan mudah dimengerti.

Pandai memilih kata yang memahamkan peserta didik.

Begitu pula ketika memberi caramah di hadapan publik, jangan dengan bahasa akademik yang susah dipahami, tetapi juga jangan banyak basa-basi yang merusak materi pokok.

Kadang ada yang banyak guyonnya, nyanyiannya, salawatannya ketimbang materi pesannya. halawatan itu baik, tapi ada tempatnya tersediri.

Ya, memang tidak semua pertanyaan di dalam Alquran bisa dijawab.

Seperti pertanyaan tentang alam gaib, ajal, umur manusia, ruh, kapan mati dan di mana, hari kiamat dan lain-lain.

Bahkan, apa yang terjadi dan yang pasti dilakukan esok hari..?

Itulah, maka peran ’’al-masyi’ah’’ berkata: ’’in sya’ Allah’’ menjadi sangat penting. Itu kalimah keimanan yang melibatkan peran Tuhan secara mutlak.

Perlu diingat, kalimat ’’in sya’ Allah’’ (bila Allah menghendaki) itu hanya diucapkan untuk hal-hal ke depan yang belum terjadi atau yang akan dilakukan.

Wa lataqulann lisyai’ inny fa’il dzalik ghada, illa an yasya’ Allah... Jangan sekali-sekali kalian berucap: Saya besok mau melakukan ini, kecuali disertai kalimat atas kehendak Allah (al-kahf:23-24).

Ghada, artinya besok, waktu yang belum ada, akan datang, yang akan terjadi nanti. Artinya, kalau sudah terjadi, maka kalimat: ’’in sya’ Allah’’ tak ada artinya.

Anda ditanya: ’’Apa kamu kemarin masuk kuliah? Anda menjawab: ’’ In sya’ Allah ya, masuk.’’ Ini lucu sekali.

Makanya janggal sekali ketika di grup WA ada berita kematian seseorang, lalu ada yang merespons dengan nada berdoa yang sia-sia.

’’Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’’ Semoga husnul khatimah. Ucapan istirja’nya, ’’inna lillahi’’-nya betul.

Tapi doa semoga husnul khatimah-nya sia-sia. Khatimah, artinya akhir, akhir hayat atau mati.

Husn artinya bagus, husnul khatimah, akhir hayat atau mati yang bagus, Lawannya ’’su’ al-khatimah’’ (buruk akhir hayatnya), na’udz billah min dzalik.

Almarhum itu sudah mati, sudah ada capnya, sudah ada labelnya, sudah diputuskan: Bisa label baik (husn) atau label buruk (su’).

Maka ucapan yang baik saat ada berita duka adalah: ’’inna lillah wainna ilaih raji’un. Allahumm ighfir lah/laha, dan seterusnya.

Membaca istirja’, lalu berdoa agar semua dosanya diampuni. Apapun label kematiannya, hanya Tuhan yang tahu.

Tetapi jika sudah diampuni, dirahmati, maka pasti bagus di alam sono.

Mosok, mayit dihidupkan lagi sebentar, lalu diformat ’’husn’’ lalu mati lagi. Piye iki..?

Jadi, doa husn al-khatimah itu hanya untuk orang yang masih hidup saja, utamanya berdoa untuk diri sendiri. (bersambung, in sya’ Allah).

Editor : Achmad RW
#Tafsir Kontemporer #mati #Hikmah #Tuhan #KH Mustain Syafii