DARI hasil survei independen yang ter-publish, saya mendapati keseragaman hasil: urutan pertama 02, berikutnya saling susul 01 dan 03.
Sayangnya tak ada yang memperoleh di atas 50% pendukung dari jumlah responden yang digali pendapatnya.
Maka kemungkinan besar, pemilu presiden akan berlangsung dua putaran. Itu berarti pada tanggal 26 Juni 2024 kita akan coblosan lagi.
Siapa yang akan mengikuti kontestasi ronde 2..? Dari jumlah partai pendukung saya memprediksi 02 akan masuk.
Adapun lawannya bisa 01 atau 03, yang pada gilirannya mereka -dari suara bisik-bisik tetangga- akan membangun koalisi baru, karena di balik layar mereka sudah menjalin komunikasi politik.
Rupanya PDIP sudah patah arang dengan pak Jokowi, sehingga berlaku adagium: musuh lawan adalah kawan.
Jika betul-betul terwujud, ini akan menjadi fenomena yang bagus bagi meleburnya ideologi keagamaan dengan nasionalis sekular yang selama ini diperhadapkan secara diametral.
Hanya saja, meski hal itu akan mudah terjadi di level elit, tidak demikian di level massa.
Ini terlihat dari meme di medsos dalam grafis kadal gurun berkepala banteng dengan caption negatif.
Sebenarnya dari hasil Pilpres 2019, kita bisa mencermati betapa bergabungnya Prabowo dengan Jokowi bisa langsung “klik” di level elit dan organ partai politik, tapi di tataran akar rumput masih banyak yang merasa dikhianati ketua Gerindra itu.
Mengapa demikian, karena elit memilih didasari kalkulasi politik yang logis, sementara massa memilih atas dasar sentimen dan emosi subyektif: like & dislike.
Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Memilih tanpa Mencintai
Maka, meski capresnya sudah menjadi bagian kabinet, mereka tetap saja menentang Jokowi, karena sentimennya memang membenci ( dislike ) suami Iriana.
Oleh karena itu, bila saya menggambarkan pertarungan dalam pilpres saat ini dengan perspektif akar rumput, maka yang berkompetisi adalah antara pencinta Jokowi melawan pembencinya, itu saja.
Nah, kalau sudah bersentuhan dengan rasa cinta & benci, tampaknya penjelasan visi & misi bahkan debat publik paslon yang bersentuhan dengan nalar tak akan mampu mengubah pilihan mereka, karena rasa tidak bisa dinalar.
Hal itu sangat disadari oleh Prabowo dan ketua-ketua partai koalisinya, sehingga yang digandeng sebagai cawapres bukan ketua partai senior tapi “representasi” Jokowi yang masih sangat yunior, demi dukungan pencintanya.
Dari realitas politik di atas, kemudian saya berpikir: akankan pertengkaran soal rasa ini diperpanjang sampai tanggal 26 Juni 2024..?
Bukankah semakin lama durasi pertengkaran akan semakin dalam meninggalkan luka di hati masyarakat..?
Adapun hati yang terluka mendalam akan sulit sekali untuk diajak rekonsiliasi, islah atau rukun kembali.
Masyarakat akan sangat sensitif untuk melakukan perlawanan terhadap tiap kebijakan presiden terpilih nanti.
Akibatnya kerukunan hidup bersama antaranak bangsa akan rentan konflik, sehingga mudah sekali disulut tangan-tangan jahil yang tidak menyukai rakyat Indonesia hidup rukun dan damai.
Maka dari itu, ketika ibu Mega meneriakkan “menang satu putaran” di forum peringatan HUT PDIP 10 Januari lalu, saya sangat gembira.
Karena, bila bu Mega saja berani sesumbar begitu, apalagi pak Surya Paloh dan pak Jokowi yang hasil survei jagoannya lebih tinggi.
Siapa pun yang terpilih, pemilu satu putaran itu lebih baik. Uang negara akan dihemat Rp 27 triliun.
Baca Juga: Kolom Gus Zuem: Netralitas ASN & Kiai
Dana itu kalau dialokasikan untuk membangun rusunawa seperti di Unipdu ( Rp 8,7 M ) akan berdiri 3.000 unit lebih.
Belum lagi di mata investor yang butuh kepastian politik. Mereka bisa langsung bersikap.
Tapi kalau masih menunggu 133 hari lagi untuk putaran kedua, akan terjadi kemandekan investasi yang bisa mempersempit lapangan kerja, sehingga rentan tindak kriminal di masyarakat.
Oleh karena itu, untuk menuju satu putaran, saya punya kiat.
Mengingat pilpres ini, seperti saya singgung di atas, adalah kontestasi antara yang pro Jokowi versus anti-Jokowi, maka jika Anda pendukung Jokowi, pilih paslon yang merepresentasikannya.
Jika Anda tidak mendukung mantan Wali Kota Solo itu, maka pilihlah yang “paling” anti-Jokowi di antara dua paslon itu.
Sekali lagi, bagi saya, siapa pun pemenangnya akan saya terima dengan ikhlas. Karena para paslon itu hakikatnya “sekedar” menjemput takdir.
Tapi bagi halayak ramai yang merasa bahwa suara coblosan merekalah yang menentukan keterpilihan capres.
Mereka tak peduli apakah sekali atau dua kali putaran, apalagi memikirkan dampaknya, karena mereka lebih melibatkan hati daripada pikiran dalam proses memenangkannya.
Sekali putaran itu lebih mudah merukunkan. Ibarat suami-istri, pertengkaran sehari akan menghadirkan kerinduan, tapi bila lebih dari seminggu akan menghadirkan orang lain untuk menjadi penghiburnya.
Begitu kata orang, karena saya sendiri tidak pernah terpikir menghadirkan yang lain. Salam sehat penuh rahmat. (*)
Editor : Achmad RW