Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Meneladani Etika Demokrasi Gus Dur (2-Habis), Inayah Wahid: Pemikiran Gus Dur Masih Relevan sampai Sekarang

Achmad RW • Selasa, 19 Desember 2023 | 13:40 WIB
KHIDMAT: Inayah Wahid, putri Bungsu Gus Dur bersama Kepala Museum dan Cagar Budaya, Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek RI Ahmad Mahendra dan komunitas lintas iman saat tabur bunga di makam Gus Dur.
KHIDMAT: Inayah Wahid, putri Bungsu Gus Dur bersama Kepala Museum dan Cagar Budaya, Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek RI Ahmad Mahendra dan komunitas lintas iman saat tabur bunga di makam Gus Dur.

JOMBANG - Peringatan 14 tahun wafatnya Gus Dur hari kedua di Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari (Minha) Tebuireng, Minggu (17/12), hadir Inayah Wahid putri bungsu Gus Dur.

Selain tabur bunga, dia juga melakukan doa lintas iman.

Suasana di depan Minha Jombang terlihat sangat berbeda.

Sejak pagi, ratusan orang tampak sibuk. Belum lagi Gowes Gus Dur (bersepeda santai) di pagi hari sebagai kegiatan pembuka.

Berlanjut donor darah, pementasan wayang Potehi Klenteng Gudo dan pentas musik.

Sore hari, giliran ratusan orang mengikuti kirab dengan menggunakan pakaian nasional, berkeliling kompleks makam Gus Dur.

Setiap rombongan, membawa foto Gus Dur di bagian depan.

Mereka menampilkan aneka multi agama dan etnis, khas nilai keberagaman yang selama ini dibawa Gus Dur.

Sementara di dalam Makam Gus Dur, puluhan orang lainnya telah berkumpul.

Komunitas lintas iman seperti umat muslim, konghucu, hingga nasrani melaksanakan doa bersama dan tabur bunga di makam Presiden RI ke-4 itu.

Kegiatan tabur bunga dihadiri langsung putri bungsu Gus Dur, Inayah Wahid.

Baca Juga: Aksi Maling di Toko Baju Kawasan Wisata Makam Gus Dur Jombang Tertangkap CCTV, Ini Ciri-cirinya

Serta Kepala Museum dan Cagar Budaya Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek RI, Ahmad Mahendra, yang didampingi Kepala Minha Jombang Wicaksono Dwi Nugroho, serta Pengasuh Ponpes Tebuireng KH Hakim Mahfudz (Gus Kikin).

Di kesempatan itu, Inayah menyampaikan terima kasih atas penyelenggaraan Bulan Gus Dur.

Menurutnya, acara yang digelar Minha tersebut merupakan momen untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran Gus Dur secara luas.

Acara ini dinilainya sejalan dengan apa yang dipikirkan keluarga Gus Dur. Haul menurutnya tidak sebatas mendoakan Gus Dur.

“Tapi juga bagaimana warisan-warisan pemikiran Gus Dur bisa disebarluaskan. Nah acara seperti ini sangat membantu," ujar dia saat diwawancarai wartawan, usai berziarah ke makam Gus Dur, Minggu (17/12).

Dikatakan Inayah, pemikiran Gus Dur masih sangat relevan dengan apa yang terjadi saat ini. Salah satunya mengenai demokrasi yang ada di Indonesia.

Ia lantas bercerita, jika ayahandanya membuat tulisan tentang bagaimana kondisi Indonesia di tahun 90-an.

“Gus Dur pernah menulis tentang Indonesia yang seolah-olah demokrasi, seolah-olah konstitusional, seolah-olah taat hukum, seolah-olah bebas. Tapi apakah sebenarnya memang begitu? Nah itu yang dipertanyakan Gus Dur pada 90-an," ujarnya.

Pertanyaan dan keraguan Gus Dur, kata Inayah, masih cukup relevan ditanyakan sekarang.

"Kayaknya hari ini masih relevan juga dipertanyakan. Apakah hari ini demokrasi yang didapatkan memang betul-betul demokrasi atau seolah-olah demokrasi," ucap Mbak Inayah panggilan akrabnya.

Sementara itu, Kepala Museum dan Cagar Budaya, Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek RI Ahmad Mahendra, mengatakan warisan pemikiran-pemikiran Gus Dur akan terus digelorakan di dalam Minha.

Salah satunya, melalui kegiatan Bulan Gus Dur yang akan digelar setiap tahun.

"Museum ini ada tidak hanya sebatas etalase. Namun, bagaimana menjaga nilai-nilai pemikiran Gus Dur dan KH Hasyim Asy'ari akan terus kita gelorakan," pungkasnya. (riz/bin/fid)

Editor : Ainul Hafidz
#Jombang #Gus Dur #MINHA